PALU — Guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang berpusat di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu pada Selasa (11/2) siang, tidak hanya memicu kepanikan warga, tetapi juga merusak sejumlah infrastruktur kampus Universitas Tadulako (Untad). Ironisnya, beberapa gedung yang rusak merupakan bangunan yang baru saja menjalani rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana gempa, tsunami, dan likuefaksi yang meluluhlantakkan kota itu pada 2018.
Gedung Rektorat dan Auditorium Kembali Terdampak
Rektor Untad, Prof Amar, dalam keterangan tertulisnya, Selasa, mengonfirmasi bahwa Tim Barang Milik Negara (BMN) bersama tim teknis telah melakukan identifikasi awal di lokasi. Hasil sementara menunjukkan kerusakan terjadi di sejumlah titik vital kampus.
"Gedung Rektorat Untad yang telah direkonstruksi mengalami retakan dan material dinding terkelupas di beberapa bagian, termasuk kerusakan plafon. Keretakan juga ditemukan pada Gedung Media Center (GMC)," ujar Prof Amar.
Sementara itu, Auditorium Untad mengalami kerusakan lebih parah dengan runtuhnya sebagian plafon dan gangguan pada fasilitas videotron. Kerusakan non-struktural berupa retakan juga ditemukan di Rumah Sakit Untad, serta sebagian plafon roboh di Fakultas Teknik. Gelanggang Mahasiswa pun tak luput dari retakan yang masih dalam pemeriksaan lebih lanjut.
Untad Pastikan Tak Ada Korban Jiwa
Meskipun kerusakan bangunan cukup signifikan, Prof Amar menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan korban jiwa maupun luka-luka akibat gempa tersebut. Pihak universitas kini tengah fokus pada asesmen teknis menyeluruh untuk memastikan tingkat keamanan seluruh bangunan kampus sebelum kembali digunakan untuk kegiatan akademik.
"Asesmen teknis segera dilakukan menyeluruh, guna memastikan tingkat keamanan seluruh bangunan kampus," kata Prof Amar.
Evaluasi Ketahanan Bangunan Pascabencana
Hasil asesmen nantinya tidak hanya akan menjadi dasar penentuan langkah perbaikan, tetapi juga bahan evaluasi terhadap program rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pendidikan tinggi pascabencana. Prof Amar menekankan pentingnya meningkatkan ketahanan bangunan terhadap risiko kebencanaan ke depan.
Pihak universitas berjanji akan menyampaikan perkembangan hasil asesmen dan kebijakan terkait pelaksanaan kegiatan akademik melalui kanal resmi Untad. Gempa yang terjadi pada pukul 11.27 WITA dengan kedalaman 10 kilometer ini sempat dirasakan kuat di Kota Palu dan sekitarnya, mengingatkan kembali warga pada trauma bencana besar tujuh tahun lalu.