PALU — Aktivitas buaya muara di Sungai Palu kembali menyita perhatian. Beberapa ekor reptil itu terlihat berjemur di sekitar muara dan kolong Jembatan Palu IV, Rabu (29/7/2026). Pemandangan ini bukan hal baru bagi warga, namun tetap memicu kekhawatiran mengingat jumlah populasinya yang signifikan.
Populasi Buaya Muara Capai 36 Ekor di Sungai Palu
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah mencatat setidaknya 36 ekor buaya muara hidup di Sungai Palu. Angka ini menegaskan bahwa sungai yang membelah Kota Palu tersebut merupakan habitat utama reptil purba itu. Kemunculan mereka kerap terlihat di area muara yang berdekatan dengan permukiman warga.
Konflik Manusia dan Buaya Masih Tinggi
Meskipun serangan fatal terakhir tercatat pada Maret 2025, BKSDA menilai potensi konflik antara manusia dan buaya di Palu masih tinggi. Penyebabnya adalah aktivitas warga yang kerap beririsan langsung dengan habitat asli buaya muara, terutama di pesisir dan muara sungai. Beberapa laporan bahkan menunjukkan peningkatan aktivitas buaya yang mendekati pemukiman.
Warga Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
BKSDA mengimbau warga untuk selalu waspada saat beraktivitas di sekitar sungai dan pesisir. Warga diminta tidak mendekati atau mengganggu buaya yang terlihat berjemur. “Jangan pernah memberi makan buaya, karena itu akan membuat mereka terbiasa dengan manusia dan meningkatkan risiko serangan,” tegas petugas BKSDA. Keberadaan buaya muara di Sungai Palu adalah fenomena alam yang harus dihadapi dengan kewaspadaan, bukan dengan tindakan eksploitasi atau pengusiran yang justru bisa memicu agresivitas hewan tersebut.