SULAWESI TENGAH — Amran tidak main-main dalam perang melawan mafia yang selama ini membayangi program fortifikasi beras. Dalam sebuah dialog yang digelar di Jakarta, ia secara khusus meminta anak muda untuk berperan aktif memantau distribusi dan praktik curang di lapangan.
Anak Muda Jadi Garda Terdepan Pengawasan
Para mahasiswa dan pemuda yang hadir diminta melaporkan setiap indikasi penyimpangan yang mereka temukan di daerah masing-masing. Amran menilai, keberadaan mereka di berbagai pelosok menjadi aset strategis untuk memotret praktik mafia yang kerap lolos dari pengawasan pemerintah pusat.
Dialog ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Pertanian memperkuat pengawasan berbasis partisipasi publik. Dengan melibatkan organisasi kepemudaan, diharapkan informasi dari lapangan bisa masuk lebih cepat dan akurat.
Amran juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor. Ia menyebut pemberantasan mafia tidak bisa dilakukan Kementan sendirian, butuh keterlibatan aparat penegak hukum dan masyarakat sipil.
Mengapa Beras Fortifikasi Rawan Disusupi Mafia?
Beras fortifikasi merupakan program pemerintah untuk menambah zat gizi mikro pada beras, terutama bagi masyarakat dengan tingkat konsumsi yang kurang. Namun, celah regulasi dan pengawasan yang longgar di sejumlah daerah membuat komoditas ini rawan dimanipulasi.
Modus yang umum terjadi adalah penggantian beras fortifikasi dengan beras biasa, atau bahkan mencampurnya dengan kualitas di bawah standar. Praktik semacam ini tidak hanya merugikan anggaran negara, tapi juga mengancam perbaikan gizi masyarakat.
Lewat keterlibatan pemuda, pemerintah ingin memastikan program ini berjalan sesuai aturan. Laporan dari lapangan nantinya akan menjadi bahan evaluasi dan penindakan bagi pihak-pihak yang terbukti bermain.
Arah Pemberantasan ke Depan
Kementerian Pertanian berencana memperluas dialog serupa ke lebih banyak daerah. Amran ingin gerakan ini tidak berhenti di Jakarta, tapi menyentuh sentra-sentra produksi beras di berbagai provinsi.
Ia mengingatkan bahwa masalah pangan adalah persoalan hajat hidup orang banyak. Jika mafia dibiarkan bermain, target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah berpotensi terganggu.
Langkah ini juga sejalan dengan arahan Presiden untuk memperketat pengawasan distribusi pangan. Dengan melibatkan elemen muda, pemerintah berharap praktik curang yang selama ini berjalan senyap bisa segera terbongkar.
Para peserta dialog menyambut positif ajakan tersebut. Mereka berjanji akan menjadi perpanjangan tangan pemerintah di daerah masing-masing untuk melaporkan temuan mencurigakan terkait distribusi beras fortifikasi.
Inisiatif ini menjadi sinyal bahwa pemerintah serius memberantas mafia pangan, bukan sekadar wacana. Keterlibatan pemuda diharapkan menjadi penekan yang efektif bagi oknum-oknum yang selama ini merasa aman beroperasi.