Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menyatakan 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) telah beroperasi sejak 10 Agustus 2026 dan melayani 1.360 murid angkatan pertama di 17 kabupaten/kota. Program ini dirancang menghadirkan pendidikan bermutu tanpa memindahkan anak dari kampung halamannya, dengan pendekatan nonasrama agar murid tetap tinggal bersama keluarga.
JAKARTA — Sebanyak 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) resmi melayani kegiatan belajar sejak 10 Agustus 2026. Juru Bicara Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Gogot Suharwoto menyebut 1.360 murid angkatan pertama kini sudah masuk kelas, bertemu guru, dan menjalani kegiatan pendidikan harian di daerah masing-masing.
Komposisi murid terbagi rata: 680 orang jenjang SMP dan 680 orang jenjang SMA. Dari 2.068 calon murid yang mendaftar melalui Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), sebanyak 1.360 dinyatakan lolos.
17 Kabupaten/Kota di Angkatan Pertama
Pada tahun pertama penyelenggaraan, SNT hadir di Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Gowa, Kabupaten Bone Bolango, Kota Tidore Kepulauan, Ibu Kota Nusantara, Kabupaten Banyumas, Kabupaten Jepara, Kota Subulussalam, dan Kota Tarakan.
Wilayah lainnya adalah Kabupaten Donggala, Kabupaten Bolaang Mongondow, Kabupaten Minahasa Utara, Kabupaten Kupang, Kabupaten Buton Tengah, Kabupaten Tebo, serta Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Di setiap lokasi, SNT melayani murid jenjang SMP kelas VII dan SMA kelas X.
Nonasrama, Murid Tetap Tinggal Bersama Keluarga
Konsep SNT tidak mewajibkan murid mondok. Pendekatan nonasrama dipilih agar anak tetap dekat dengan keluarga dan lingkungan sosialnya, sementara layanan sekolah berjalan penuh.
Di SNT 6 Bone Bolango, Gorontalo, kegiatan pembelajaran sudah berjalan dengan dukungan guru dan tenaga pendamping. Dua bus sekolah melayani antar-jemput sebagian murid dari titik kumpul yang disesuaikan dengan lokasi tempat tinggal mereka. Sekolah itu melayani 80 murid, terdiri atas 40 murid SMP dan 40 murid SMA.
Bukan Sekadar Bangunan Sekolah Baru
Pemerintah memposisikan SNT sebagai bagian dari ekosistem peningkatan mutu pendidikan di daerah, bukan hanya penambahan ruang kelas. Sekolah ini diarahkan menjadi pusat pengembangan mutu yang mendorong kompetensi guru, inovasi pembelajaran, pengembangan minat dan bakat murid, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi dengan sekolah-sekolah sekitar.
"Sejak 10 Agustus 2026, sebanyak 17 SNT telah mulai beroperasi dan memberikan layanan pendidikan kepada 1.360 murid angkatan pertama di berbagai daerah Indonesia. Mereka terdiri atas 680 murid jenjang SMP dan 680 murid jenjang SMA," ujar Gogot di Jakarta, Senin.
Ia menegaskan kehadiran SNT adalah upaya negara mendekatkan layanan pendidikan bermutu sekaligus memperkecil kesenjangan kesempatan antardaerah.
"Anak-anak dengan potensi luar biasa lahir di seluruh penjuru Indonesia. Mereka tidak seharusnya kehilangan kesempatan hanya karena jauh dari pusat-pusat pendidikan. Melalui SNT, negara ingin menghadirkan layanan pendidikan bermutu lebih dekat dengan tempat mereka tumbuh, sehingga anak-anak dapat berkembang secara optimal dan tetap dekat dengan keluarga serta lingkungan sosialnya," kata Gogot.
Seleksi Prioritaskan Domisili Setempat
Penerimaan murid SNT memprioritaskan calon murid yang berdomisili di wilayah tempat sekolah diselenggarakan. Ruang bagi calon murid berprestasi dari wilayah sekitar tetap dibuka sesuai ketentuan dan daya tampung.
Tahapan seleksi mencakup administrasi dan tes skolastik. Pemerintah secara paralel menyiapkan pengembangan fasilitas SNT secara permanen di tahap berikutnya.
"Ukuran keberhasilan sebuah kebijakan pendidikan pada akhirnya adalah ketika manfaatnya benar-benar dirasakan oleh anak-anak. Hari ini, murid-murid SNT sudah belajar di kelas, didampingi guru, berinteraksi dengan teman-temannya, dan mulai membangun cita-cita mereka. Inilah yang terus kami perkuat," ujar Gogot.
Gogot menambahkan pembangunan sumber daya manusia unggul tidak bisa hanya bertumpu pada kota-kota besar. Pengembangan SNT akan dilakukan bertahap sebagai instrumen pemerataan pendidikan bermutu.