SULAWESI TENGAH — Four Seasons in Java adalah film panjang kelima Kamila Andini. Film ini dibintangi Putri Marino, yang kembali bekerja sama dengan Andini setelah serial Cigarette Girl. Marino sudah masuk dalam proyek ini sejak naskah masih ditulis, jauh sebelum keduanya syuting untuk Netflix.
Kisah Pertiwi dan Kota Fiktif Bergaya Western
Four Seasons in Java mengikuti Pertiwi, yang diperankan Putri Marino. Ia kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun dipenjara karena membunuh seorang pria dalam upaya pembelaan diri saat percobaan pemerkosaan.
Latar ceritanya adalah kota fiktif dengan nuansa mirip film Western. Untuk peran ini, Marino menjalani latihan berkuda, menangani listrik, hingga bela diri. Andini menyebut proses pengembangan karakter kali ini paling intens dibandingkan film-filmnya sebelumnya.
"Ini mungkin film saya dengan workshop karakter paling banyak," ujar Andini.
Anger yang Membebaskan
Andini dikenal lewat penggambaran lembut soal perjuangan perempuan. Four Seasons in Java disebut sebagai karya paling marah dalam kariernya. Selama riset naskah, ia mengaku ingin banyak mengumpat.
"Saya tidak merasa semarah itu, tapi saat riset untuk naskah, saya ingin banyak mengumpat," kata Andini. Ia menambahkan, kemarahan bisa menjadi sesuatu yang membebaskan.
Tanpa Festival Cut, dengan Banyak Karakter
Saat mengirim Yuni ke TIFF 2021, masukan dari mitra internasional menyebut film itu punya terlalu banyak karakter. Andini lalu memangkas beberapa tokoh untuk versi festival. The Seen and the Unseen, film pertamanya di TIFF, memang hanya punya sedikit karakter.
Di Four Seasons in Java, Andini tidak melakukan pemangkasan. Ia justru ingin penonton internasional merasakan semarak dan semangat komunal masyarakat Indonesia. Film ini tidak memiliki festival cut.
Meski begitu, Andini sadar karakter Asia kadang tampak mirip di mata penonton Amerika Utara. Ia bekerja sama dengan desainer kostum Hagai Pakan (Cigarette Girl, Yuni) untuk memberi identitas visual berbeda pada tiap karakter.
Festival sebagai Gerbang Pasar Internasional
Bagi sineas Indonesia, festival film menjadi pintu masuk ke pasar global. Andini menyebut posisi sinema Indonesia masih belum jadi prioritas di kancah Asia.
"Indonesia bukan yang terlintas di pikiran orang soal sinema Asia. Bahkan di Asia Tenggara pun kami belum jadi yang utama, karena Thailand dan Filipina lebih dikenal," ujarnya.
Karena itu, Andini dan sineas Indonesia lain aktif mengikuti pasar proyek internasional. Platform ini bukan lagi sekadar soal pendanaan, tapi juga memperkenalkan cerita dan budaya Indonesia ke industri global.
Jadwal Tayang
Four Seasons in Java tayang perdana di Toronto sebelum kembali ke Indonesia pada 8 Oktober. Film ini juga akan diputar di Busan International Film Festival.
Four Seasons in Java menambah daftar panjang film Indonesia yang menempuh jalur festival sebelum masuk bioskop domestik.