SULAWESI TENGAH — Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Djoko Siswanto mengonfirmasi lonjakan produksi tersebut terjadi di Area A Lapangan Minas. Injeksi bahan kimia pertama dilakukan pada Desember 2025, dan hasilnya sudah terlihat jelas pada Juni 2026.
"Alhamdulillah, proyek EOR PHR di Lapangan Minyak Minas saat ini telah menunjukkan hasil nyata, yaitu dalam waktu enam bulan sejak injeksi bahan kimia di Area A, produksinya sudah meningkat 300%, tercapai sesuai dengan yang direncanakan," ujar Djoko dalam pernyataan resminya.
Dari 300 Persen ke 5.000 Persen: Target Ambisius Akhir Tahun
Peningkatan 300 persen di Area A baru permulaan. Djoko menargetkan produksi dari area yang sama bisa melonjak hingga 50 kali lipat atau 5.000 persen pada Desember 2026. Angka ini menunjukkan potensi besar teknologi injeksi kimia untuk menguras minyak yang tersisa di batuan reservoir.
Capaian ini menjadi pijakan penting. PHR kini bersiap memperluas proyek ke area lainnya. Total ada enam area pengembangan di Lapangan Minas, yakni Area A, B, C, D, E, dan F. Saat ini, persiapan injeksi kimia tengah berlangsung untuk Area B dan D.
Kolaborasi dengan Perusahaan China dan Tiga Jenis Bahan Kimia
Untuk Area C, E, dan F, PHR akan menggandeng mitra. Skema kerja sama mengacu pada Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 serta bentuk kolaborasi lain dengan perusahaan asal China, Daqing Oil & Gas Company. Perusahaan ini disebut sangat sukses menerapkan teknologi EOR serupa di negerinya.
Dalam proyek ini, PHR menggunakan tiga jenis bahan kimia utama. Pertama, alkali yang diproduksi di dalam negeri. Kedua, surfaktan atau sabun yang diramu sendiri oleh PHR menggunakan formula berpaten. Ketiga, polimer yang masih harus diimpor.
Target Puncak Produksi 200.000 Barel per Hari pada 2029-2030
Djoko berharap seluruh pemangku kepentingan mendukung percepatan proyek. Idealnya, pengembangan di enam area bisa berjalan paralel, bukan bertahap. Dengan begitu, puncak produksi bisa diraih lebih cepat.
"Mohon doa dan dukungan semua pihak agar proyek EOR ini dapat dipercepat pelaksanaannya dan secara paralel Area A, B, C, D, E, dan F dikerjakan bersamaan sehingga pada tahun 2029–2030 sudah mendapatkan puncak produksinya hingga mencapai 200.000 BOPD," jelas Djoko.
Lapangan Minas sendiri merupakan salah satu lapangan minyak tertua dan terbesar di Indonesia. Teknologi EOR menjadi satu-satunya cara untuk memperpanjang usia produksi lapangan-lapangan tua semacam ini. Jika model Minas berhasil direplikasi, bukan tidak mungkin target produksi minyak nasional 1 juta barel per hari bisa kembali terkejar.