SULAWESI TENGAH — Penguatan rupiah di pasar spot ini berbanding terbalik dengan posisi penutupan akhir pekan lalu di Rp17.897 per dolar AS. Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut tekanan terhadap dolar AS berasal dari rilis data ketenagakerjaan AS pada Jumat (7/8) yang mengecewakan pelaku pasar.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS NFP pada hari Jumat yang jauh lebih lemah dari harapan,” ujar Lukman kepada Infobanknews, Senin (10/8).
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Turun, Dolar Kehilangan Daya Tarik
Data NFP yang lemah otomatis mengubah perhitungan investor mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Peluang The Fed untuk kembali menaikkan Fed Funds Rate (FFR) dalam waktu dekat menipis, sehingga imbal hasil obligasi pemerintah AS ikut tertekan. Kondisi ini lazim menjadi sentimen positif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, Lukman mengingatkan bahwa laju penguatan rupiah tidak akan berjalan mulus. Faktor geopolitik masih membayangi, terutama ketidakpastian mengenai pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia.
“Namun ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz bisa menahan penguatan,” imbuhnya.
Potensi Range Pergerakan Hari Ini
Dengan kombinasi sentimen eksternal yang positif dan risiko geopolitik yang belum mereda, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di rentang yang cukup lebar. Lukman memproyeksikan mata uang Garuda akan berkisar antara Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan Senin.
“Rupiah akan berada di range Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS hari ini,” pungkasnya.
Level Rp17.800 menjadi support terdekat yang akan diuji jika penguatan berlanjut. Sebaliknya, apabila sentimen risk-off kembali muncul akibat eskalasi geopolitik, tekanan jual dolar AS bisa berbalik dan mendorong rupiah melemah ke area Rp17.950.
Investasi mengandung risiko.