Pencarian

Pengusaha Ritel dan Otomotif Pangkas Ekspansi, Beban Bunga Kredit Investasi Membengkak

Senin, 22 Juni 2026 • 12:36:31 WIB
Pengusaha Ritel dan Otomotif Pangkas Ekspansi, Beban Bunga Kredit Investasi Membengkak
Pengusaha ritel dan otomotif menunda ekspansi akibat beban bunga kredit investasi yang meningkat.

SULAWESI TENGAH — Kekhawatiran pengusaha terhadap tren kenaikan suku bunga kembali mengemuka seiring langkah agresif pemerintah dan Bank Indonesia menjaga nilai tukar rupiah. Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, efek pertama yang langsung dirasakan anggota adalah membengkaknya cicilan pokok dan bunga pinjaman untuk modal kerja serta investasi.

"Naiknya kredit itu bisa, bukan menahan, tetapi mungkin salah satu pertimbangan untuk menghitung ulang. Ini yang investasinya menggunakan bank," ujar Budihardjo kepada Bloomberg Technoz, Minggu (21/6/2026).

Dilema Konsumsi vs Biaya Pinjaman

Di sisi lain, Budi mengakui kenaikan bunga pinjaman biasanya diikuti dengan kenaikan bunga simpanan masyarakat. Ia berharap efek itu mampu mendorong daya beli lewat pendapatan bunga deposito yang lebih tinggi. Namun, ia menekankan efek positif itu baru terasa jika kenaikan suku bunga tidak terlalu tajam dan dalam waktu singkat.

"Kalau naiknya gradual, mungkin konsumen masih bisa menyesuaikan. Tapi kalau langsung tinggi, risikonya konsumsi justru tertekan karena orang lebih milih menabung," jelasnya.

Penjualan Otomotif Mulai Terpengaruh

Sektor otomotif menjadi salah satu yang paling rentan terhadap perubahan suku bunga. Kenaikan bunga kredit kendaraan bermotor (KKB) secara langsung menaikkan cicilan bulanan konsumen. Data terbaru menunjukkan, permintaan mobil dan motor baru mulai melambat dalam beberapa pekan terakhir, meskipun angka pastinya belum dirilis secara resmi oleh asosiasi.

Para pelaku usaha di segmen ini menilai, tekanan terbesar berasal dari suku bunga acuan yang berpotensi naik 25-50 basis poin lagi dalam RDG Bank Indonesia bulan depan. Jika terealisasi, bunga KKB diperkirakan bisa menyentuh level 9-10% per tahun, level tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Apa Langkah Pengusaha Selanjutnya?

Alih-alih menghentikan total rencana investasi, sebagian besar anggota Hippindo memilih strategi wait and see. Proyek pembukaan gerai baru atau perluasan pabrik yang pendanaannya berasal dari kas internal tetap berjalan. Namun, proyek yang bergantung pada pinjaman bank ditunda hingga suku bunga menunjukkan tren menurun.

"Kami tidak berhenti, tapi memperlambat. Ini soal timing," kata Budihardjo.

Ia juga mendorong pemerintah dan BI untuk memberikan insentif kredit bagi sektor riil, seperti subsidi selisih bunga atau penjaminan kredit investasi, agar laju ekspansi bisnis tidak terhenti di tengah tekanan nilai tukar. Tanpa langkah antisipasi, Budi memperingatkan, perlambatan investasi pada semester II-2026 bisa berdampak pada serapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Bagikan
Sumber: bloombergtechnoz.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks