SULAWESI TENGAH — Populasi badak jawa (Rhinoceros sondaicus) di Taman Nasional Ujung Kulon, Kabupaten Pandeglang, Banten, kini tercatat menembus lebih dari 80 individu berdasarkan data Kementerian Kehutanan. Angka itu naik dari periode pendataan sebelumnya yang sempat hanya 25-30 ekor, lalu bertambah menjadi 50-60 ekor. Meski trennya positif, sejumlah pakar mengingatkan keselamatan satwa endemik ini belum otomatis terjamin selama perburuan liar masih terjadi.
Dosen Fakultas Kedokteran Hewan IPB University, Dr drh Muhammad Agil, MSc.Agr, menilai kenaikan populasi tidak bisa dibaca sebagai jaminan tunggal. Ada satu syarat yang menurutnya paling menentukan kelangsungan spesies bercula satu tersebut.
Mengapa Perburuan Nol Jadi Syarat Mutlak
Agil menyebut keberhasilan konservasi badak di berbagai negara mengikuti pola yang sama. Populasi baru pulih setelah ancaman perburuan ditekan sampai mendekati nol.
"Kalau masih ada perburuan, sekecil apa pun, dampaknya bisa sangat besar untuk populasi yang jumlahnya terbatas seperti badak," kata Agil kepada detikTravel, Selasa (22/9/2026).
Dampak itu bukan cuma soal berkurangnya jumlah individu. Perburuan juga bisa menghapus badak-badak yang membawa nilai genetik penting bagi masa depan spesies.
Pelajaran dari India dan Nepal
India dan Nepal sering dirujuk sebagai contoh sukses konservasi badak bercula satu. Keduanya memperluas perlindungan habitat sekaligus menerapkan pengawasan ketat terhadap perburuan liar.
Hasilnya, populasi badak india (Rhinoceros unicornis) terus bertambah selama beberapa dekade terakhir dan kini mencapai ribuan individu di sejumlah kawasan konservasi.
Menurut Agil, pengalaman itu menunjukkan perlindungan habitat dan penegakan hukum tidak bisa dipisahkan. "Kunci pertama tetap memastikan tidak ada perburuan. Kalau itu tidak bisa dijaga, upaya-upaya lain menjadi jauh lebih sulit," ujarnya.
Risiko Populasi di Satu Lokasi
Badak jawa berada dalam posisi yang lebih rentan dibanding badak india. Seluruh populasinya hanya hidup di satu titik, yakni Taman Nasional Ujung Kulon.
Artinya, kehilangan satu individu saja berdampak lebih besar ketimbang spesies yang jumlahnya banyak dan tersebar di banyak kawasan. Tidak ada populasi cadangan yang bisa menopang jika terjadi gangguan di lokasi tunggal itu.
Karena itu, Agil menilai keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari angka pertambahan badak tiap tahun. Yang sama penting adalah memastikan setiap individu bisa hidup aman dan berkembang biak tanpa tekanan dari manusia.
"Harapan kita tentu badak jawa tidak mengalami nasib yang sama seperti satwa-satwa yang sudah hilang dari Indonesia. Karena itu upaya konservasi harus terus diperkuat sejak sekarang," kata dia.
Catatan bagi Wisatawan Ujung Kulon
Bagi traveler yang berencana berkunjung ke Ujung Kulon, keberadaan badak jawa umumnya tidak bisa diamati langsung dari jalur wisata biasa. Satwa ini sangat sensitif terhadap kehadiran manusia dan aktivitas di sekitar habitatnya.
Kunjungan ke kawasan ini tetap bisa dilakukan untuk menikmati lanskap hutan hujan tropis, pantai, dan keanekaragaman hayati lain. Namun pengunjung diminta mematuhi aturan zona, tidak membawa senjata atau perangkap, dan melaporkan aktivitas mencurigakan kepada petugas taman nasional.
Informasi terkini soal kuota kunjungan, tarif masuk, dan paket wisata dapat dikonfirmasi langsung ke Balai Taman Nasional Ujung Kulon atau dinas pariwisata setempat.