BANGGAI KEPULAUAN — Laporan kejadian diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Tengah pada Jumat (30/10/2026) pukul 19.01 Wita, sepekan setelah api pertama kali muncul. Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Tengah Asbudianto menyebut penanganan masih berlangsung di lapangan.
Luas lahan terdampak tercatat 119 hektare. Kebakaran mencakup dua wilayah administratif berbeda, yakni Desa Apal di Kecamatan Liang dan Desa Alakasing di Kecamatan Peling Tengah.
Api Merambat Akibat Angin dan Vegetasi Kering
Kebakaran bermula dari aktivitas pembukaan lahan perkebunan warga pada Jumat (23/10/2026) sekitar pukul 11.30 Wita. Api kemudian membesar dan merambat ke wilayah lain akibat tiupan angin serta kondisi vegetasi yang kering.
Perambatan itu membuat titik api meluas hingga mencakup dua desa tersebut. Hingga laporan disampaikan, tidak ada korban jiwa akibat peristiwa karhutla di Banggai Kepulauan.
Medan Ekstrem Menyulitkan Petugas Memadamkan Titik Api
Petugas gabungan menghadapi kendala berupa medan ekstrem dan akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut menyulitkan upaya pemadaman titik api.
Untuk mendukung penanganan, diperlukan pengadaan peralatan pemadaman karhutla bergerak atau mobile. Peralatan itu dinilai perlu agar petugas dapat menjangkau area yang sulit diakses.
BPBD Sulawesi Tengah terus memantau perkembangan kebakaran dan berkoordinasi dalam penanganannya.
Pemda Imbau Warga Waspada Saat Membuka Lahan
Pemerintah daerah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama saat melakukan aktivitas pembukaan lahan perkebunan. Pembukaan lahan yang tidak terkendali berpotensi memicu kebakaran dan memperluas dampak bencana ekologis.
Imbauan itu menyusul pola kejadian di Banggai Kepulauan, di mana titik awal kebakaran berasal dari aktivitas warga. Warga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama saat angin kencang dan vegetasi mengering.