SULAWESI TENGAH — Fenomena langit berwarna oranye pekat hingga kemerahan di sejumlah wilayah Kalimantan ramai dibahas di media sosial. Profesor Riset Astronomi-Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin menyatakan warna tersebut muncul karena langit dipenuhi partikel asap karhutla yang menghamburkan cahaya matahari. Penjelasan ini menegaskan bahwa perubahan warna langit bukan fenomena astronomi, melainkan dampak langsung polusi asap di atmosfer.
Mengapa Langit Berubah Merah
Thomas menjelaskan, langit yang dipenuhi asap membuat cahaya matahari mengalami penghamburan. Partikel asap di atmosfer memantulkan dan menyebarkan cahaya dengan cara berbeda dibanding kondisi atmosfer bersih. Efek inilah yang membuat langit tampak oranye pekat hingga kemerahan, bukan biru seperti biasanya.
Penjelasan tersebut mematahkan dugaan sebagian warganet yang mengaitkan fenomena ini dengan peristiwa astronomi. Warna langit yang berubah drastis murni berasal dari partikel polusi yang melayang di lapisan atmosfer.
Kaitan dengan Karhutla di Kalimantan
Kemunculan langit merah ini beriringan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah titik di Kalimantan. Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin dan menumpuk di atmosfer, sehingga menghambat cahaya matahari yang seharusnya tersebar normal.
Wilayah Kalimantan memang rutin menghadapi karhutla, terutama pada musim kemarau. Kondisi ini diperparah oleh lahan gambut yang mudah terbakar dan menghasilkan asap tebal dalam jumlah besar.
Dampak bagi Kesehatan dan Aktivitas Warga
Selain mengubah warna langit, asap karhutla berdampak langsung pada kualitas udara. Partikel halus dari asap dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan penderita penyakit paru.
Warga di wilayah terdampak disarankan mengurangi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Penggunaan masker dan pemantauan indeks kualitas udara menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan.
Respons Ilmiah dan Literasi Publik
Penjelasan BRIN menjadi contoh bagaimana literasi sains membantu masyarakat memahami fenomena alam. Alih-alih dikaitkan dengan hal-hal mistis atau teori konspirasi, perubahan warna langit dapat dijelaskan melalui mekanisme fisika atmosfer yang terukur.
Thomas Djamaluddin menegaskan bahwa penghamburan cahaya oleh partikel asap adalah penyebab utama. Penjelasan ini sekaligus mengingatkan bahwa kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi tantangan serius.
Fenomena langit merah di Kalimantan menjadi pengingat bahwa dampak karhutla tidak hanya terlihat dari titik api, tetapi juga dari perubahan visual di langit dan memburuknya udara yang dihirup warga setiap hari.