SULAWESI TENGAH — Analis Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Lampung, Faresha Revanza, mengungkapkan gempa dangkal dengan kedalaman sekitar 10 kilometer tercatat di Lampung Timur pada 16 Agustus 2026. Sebelumnya, wilayah Tanggamus juga mengalami guncangan serupa. Menurut Faresha, kedalaman episentrum menjadi penentu utama kekuatan guncangan yang dirasakan masyarakat.
"Gempa dangkal cenderung menimbulkan guncangan yang lebih kuat dibandingkan gempa dengan kedalaman yang lebih besar," kata Faresha, Sabtu (22/8/2026).
Tiga Sesar Aktif yang Dipantau Ketat
Kepala BPBD Provinsi Lampung Rudy Syawal menjelaskan, pemantauan berkelanjutan menjadi keharusan karena tiga sesar aktif melintasi wilayah Lampung. Ketiganya adalah Sesar Semangko, Sesar Panjang, dan Sesar Tarahan.
"Beberapa hari yang lalu di Lampung juga ada gempa di Tanggamus. Kita terus pantau karena di Lampung ini ada Sesar Semangko, Sesar Panjang, dan Sesar Tarahan. Itu yang selalu kita pantau," ujar Rudy.
Aktivitas Vulkanik Anak Krakatau Masih Tinggi
Di sisi lain, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas yang tak bisa diabaikan. Erupsi tercatat pada 16 Agustus 2026 dengan amplitudo maksimum 43 milimeter dan durasi 59 detik. Data pemantauan pada 18 Agustus 2026 pukul 06.00-12.00 WIB menunjukkan 60 kali gempa hembusan, dua kali gempa frekuensi rendah, 41 kali gempa hybrid, serta satu kali gempa tremor.
Faresha menegaskan, eskalasi pemantauan ini bukan untuk menimbulkan kepanikan publik. Justru sebaliknya, masyarakat diharapkan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.
"Ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menambah kewaspadaan dan awareness kita terhadap bencana, terutama karena beberapa wilayah Indonesia mengalami gempa berkekuatan di atas magnitudo 6 dan Gunung Anak Krakatau juga masih aktif," jelasnya.
Edukasi Warga dan Kesiapan Tsunami
BPBD Lampung tidak hanya mengandalkan pencatatan aktivitas seismik dan pemasangan alat deteksi. Petugas juga diterjunkan ke lapangan untuk memberikan pemahaman langsung kepada warga mengenai langkah penyelamatan diri saat bencana terjadi.
"Teman-teman turun ke lapangan sebagai salah satu upaya mengedukasi masyarakat bagaimana menghadapi kondisi ketika di wilayahnya terjadi bencana," kata Rudy.
Perhatian khusus diberikan kepada masyarakat pesisir Lampung Selatan yang berpotensi terdampak tsunami. Sebanyak enam unit sistem peringatan dini telah dipasang di enam desa pesisir bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Ketika kejadian itu berada di wilayah pesisir, kita sudah lebih siap. Ada early warning system yang dipasang bersama BNPB di enam desa yang ada di Lampung Selatan," ujar Rudy.
Program Desa Tangguh Bencana Masih Terbatas
Kesiapsiagaan berbasis masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah. Dari sekitar 2.500 desa dan kelurahan di Lampung, baru 14 desa yang menjalankan program Desa Tangguh Bencana (Destana) dari 52 desa yang dipersiapkan. BPBD berencana mengkolaborasikan Destana dengan program Desaku Maju untuk memperluas cakupan.
"Ke depan akan lebih banyak lagi, mengingat Destana kita belum sampai 100 dari sekitar 2.500 desa. Ini akan dikolaborasikan dengan program Desaku Maju, sehingga desa berstatus Desaku Maju juga menjadi desa tangguh bencana," sebutnya.
Pelibatan pemuda juga akan diperluas melalui program Karang Taruna Tangguh Bencana. Kelompok pemuda di tingkat desa diharapkan berperan aktif dalam respons awal ketika bencana terjadi.
BPBD Lampung mengimbau masyarakat tetap tenang dan menyaring informasi dari kanal resmi. Perkembangan aktivitas gempa dapat dipantau melalui BMKG, sedangkan informasi gunung api tersedia di aplikasi MAGMA Indonesia.