PALU — Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid langsung berkomunikasi dengan Bupati Parigi Moutong setelah gempa bumi mengguncang wilayah itu pada Sabtu (15/8) malam pukul 23.25 WIB. Ia meminta agar pendataan dampak dilakukan secepat mungkin untuk mengantisipasi adanya rumah rusak atau korban yang belum terlaporkan.
"Saya sudah sampaikan tadi malam kepada Pak Bupati agar segera melakukan pengecekan kalau ada rumah yang rusak atau apa pun, segera kita ambil langkah penanganan," kata Anwar Hafid di Palu, Minggu.
Berdasarkan laporan sementara yang diterima gubernur, hingga Minggu pagi belum ada informasi mengenai kerusakan bangunan maupun dampak lain yang ditimbulkan getaran gempa. Meski begitu, ia menegaskan bahwa situasi di lapangan terus dipantau untuk memastikan keselamatan warga.
Pemetaan Cepat BPBD dan Gempa Susulan Berkekuatan M 2,2
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong saat ini tengah melakukan pendataan menyeluruh. Petugas tidak hanya memeriksa kerusakan fisik, tetapi juga mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga yang mungkin terdampak.
Sementara itu, BMKG mencatat telah terjadi satu kali gempa susulan dengan magnitudo 2,2 pada pukul 01.27 WITA. Getaran susulan ini berkekuatan kecil dan tidak dirasakan signifikan oleh masyarakat.
Pusat Gempa di Laut dan Tidak Berpotensi Tsunami
Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa terletak pada koordinat 0,26 derajat Lintang Utara dan 120,25 derajat Bujur Timur, tepatnya di laut dengan jarak 71 kilometer barat daya Parigi Moutong. Gempa ini memiliki kedalaman 60 kilometer dan masuk kategori gempa bumi dangkal.
Pusat gempa yang berada di laut sempat memicu kekhawatiran akan terjadinya tsunami. Namun, berdasarkan hasil pemodelan yang dilakukan BMKG, gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.
Penyebab Gempa: Aktivitas Deformasi Batuan dalam Lempeng
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, BMKG menjelaskan bahwa gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Penyebabnya adalah aktivitas deformasi batuan dalam lempeng, bukan akibat pergerakan sesar di permukaan.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik atau oblique thrust fault. Informasi ini penting untuk memahami karakteristik kegempaan di wilayah tersebut dan menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah mitigasi.
Masyarakat diimbau tetap tenang namun waspada, serta mengikuti arahan dari petugas BPBD setempat selama proses pendataan dan pemantauan berlangsung.