SULAWESI TENGAH — Virgin Galactic tengah bersiap menyapa pelanggannya kembali setelah menghentikan operasi penerbangan suborbital sejak 2024. Namun, mereka yang sudah memesan tiket harus bersabar lebih lama. Maskapai wisata antariksa ini resmi mengumumkan bahwa penerbangan komersial perdana pesawat luar angkasa anyarnya, yang selama ini dikenal sebagai kelas "Delta", diundur dari rencana awal kuartal keempat 2026 menjadi kuartal pertama 2027.
Bukan Satu Masalah Besar, tapi Ratusan Detail Kecil
Michael Colglazier, CEO Virgin Galactic, mengungkapkan alasan di balik kemunduran jadwal ini dalam panggilan pendapatan perusahaan. Ia menegaskan bahwa penundaan tersebut bukan disebabkan oleh satu kegagalan fatal, melainkan akumulasi dari "ratusan tugas instalasi yang relatif kecil namun penting" dalam proses konstruksi.
Tim teknis menemukan banyak komponen yang dimensinya tidak presisi. "Beberapa komponen ternyata lebih tinggi atau lebih pendek beberapa per seribu inci dari yang seharusnya," jelas Colglazier. Meski terdengar sepele, akurasi tingkat mikron ini krusial untuk keselamatan penerbangan antariksa. Penundaan ini memberi kelonggaran waktu bagi tim untuk mengoreksi seluruh perakitan dan memastikan kendaraan dibangun dengan sempurna.
Sebagai langkah lanjutan, Virgin Galactic berencana memulai uji coba darat (ground test) pada kendaraan tersebut akhir bulan ini.
Pendapatan Tetap Aman: 50 Tiket Suborbital Ludes Terjual
Kabar penundaan ini tidak mengubah optimisme perusahaan terhadap sisi komersial. Dalam kesempatan yang sama, Colglazier membeberkan bahwa penjualan tiket untuk penerbangan suborbital di masa depan berjalan sangat baik. Perusahaan telah menjual lebih dari 50 tiket dengan harga masing-masing USD 750.000 (sekitar Rp 12,3 miliar).
Dari gelombang penjualan yang dimulai pada Maret lalu itu, Virgin Galactic mengantongi pendapatan lebih dari USD 50 juta (sekitar Rp 825 miliar). Angka ini menjadi sinyal kuat bahwa pasar wisata antariksa masih diminati meski jadwal operasional mundur.
Colglazier juga memastikan bahwa armada tidak akan berhenti pada satu unit. Pesawat luar angkasa kedua sudah dalam tahap produksi dan dijadwalkan beroperasi untuk penerbangan komersial pada kuartal kedua 2027. Dengan dua armada siap terbang, perusahaan menargetkan frekuensi hingga 10 penerbangan per bulan pada akhir kuartal tersebut.
Nama Baru, Pilihan Publik
Sambil menunggu proses perakitan rampung, Virgin Galactic membuka partisipasi publik untuk memberi identitas pada kendaraan anyarnya. Perusahaan telah meluncurkan polling resmi yang memungkinkan siapa saja memberikan suara.
Namun, pilihan nama yang disediakan cukup terbatas dan semuanya terdengar megah. Voters hanya bisa memilih antara Horizon, Explorer, Ascend, dan Apeiron. Dengan daftar tertutup ini, hampir tidak ada peluang bagi publik untuk memilih nama nyeleneh seperti Boaty McBoatface yang sempat viral di Inggris beberapa tahun lalu.
Dampak bagi Calon Penumpang dan Industri
Bagi para pemegang tiket, penundaan ini berarti masa tunggu yang lebih panjang. Namun, dengan target 10 penerbangan per bulan mulai akhir kuartal kedua 2027, kapasitas penerbangan akan jauh lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Ini bisa menjadi kabar baik bagi mereka yang berada di daftar tunggu panjang.
Keputusan ini juga menjadi catatan penting industri. Setelah Virgin Galactic menghentikan operasi komersial di 2024, posisi mereka sebagai pemain utama wisata suborbital sempat dipertanyakan. Penundaan ini menunjukkan bahwa pengembangan teknologi antariksa tetap menuntut kehati-hatian ekstrem, terlepas dari tekanan komersial yang ada.