SULAWESI TENGAH — Setelah resmi berpisah, hubungan mantan suami istri sering kali menjadi rumit, apalagi jika ada anak yang terlibat. Namun, Wardatina Mawa memilih jalan berbeda. Ia justru memastikan bahwa putranya tetap memiliki ikatan erat dengan sang ayah, Insanul Fahmi.
Bagi Mawa, perceraian adalah urusan orang dewasa dan tidak boleh mengurangi rasa cinta kedua orang tua kepada anak. Komitmen ini ia buktikan dengan tetap membuka ruang komunikasi dan kesempatan bertemu untuk Insanul.
Anak Tetap Butuh Figur Ayah dan Ibu
Mawa menegaskan bahwa perpisahan tidak lantas menghapus peran ayah dalam kehidupan sang buah hati. Ia justru konsisten menyuarakan pentingnya kehadiran kedua orang tua bagi tumbuh kembang anak secara emosional.
"Betul. Jadi kan ya selalu aku bilang ya, walaupun seperti ini tapi tidak mengurangi rasa cinta dan kasih sayang dari seorang ibu dan ayahnya juga," ujar Mawa saat ditemui di kawasan Kota Bogor, Jawa Barat, belum lama ini.
Pernyataan ini ditegaskan Mawa bukan tanpa alasan. Ia ingin sang anak tumbuh dengan perasaan utuh dan tidak kehilangan sosok ayah hanya karena rumah tangga orang tuanya tidak berjalan mulus.
Jadwal Rutin Akhir Pekan untuk Ayah dan Anak
Untuk menjaga kedekatan itu, Mawa dan Insanul ternyata memiliki kesepakatan yang jelas. Bukan sekadar janji, mereka menyusun jadwal rutin agar sang putra tetap bisa menghabiskan waktu berkualitas dengan ayahnya.
Mawa mengungkapkan bahwa putra semata wayangnya memiliki jadwal khusus setiap akhir pekan untuk bertemu dan bermain bersama Insanul. Cara ini dilakukan demi kebahagiaan sang buah hati.
Dengan adanya jadwal ini, Mawa berharap anaknya tidak kehilangan momen berharga bersama ayahnya. Ia juga ingin menunjukkan bahwa perceraian tidak menghalangi tanggung jawab pengasuhan bersama.
Kunci Pengasuhan Bersama: Komunikasi dan Konsistensi
Pola asuh bersama atau co-parenting memang menuntut kedewasaan ekstra dari kedua belah pihak. Yang dilakukan Mawa dan Insanul bisa menjadi contoh bahwa kepentingan anak harus selalu berada di urutan pertama.
Kuncinya ada pada komunikasi yang tetap terjaga meski status rumah tangga telah berubah. Dengan komunikasi yang baik, jadwal bertemu bisa diatur tanpa mengorbankan perasaan anak.
Konsistensi jadwal juga penting. Anak akan merasa aman dan tenang ketika ia tahu kapan bisa bertemu dengan ayah atau ibunya. Hal ini membantu anak beradaptasi dengan situasi baru pasca-perceraian orang tuanya.
Pada akhirnya, kebahagiaan anak adalah prioritas utama. Melalui sikap saling mendukung, Mawa dan Insanul menunjukkan bahwa peran sebagai orang tua tidak berhenti meski hubungan pernikahan telah usai.