Pencarian

Sutradara Teodora Ana Mihai dan Sode Yukiko Ungkap Rahasia Kehamilan di Tokyo Film Festival

Senin, 02 November 2026 • 15:18:31 WIB
Sutradara Teodora Ana Mihai dan Sode Yukiko Ungkap Rahasia Kehamilan di Tokyo Film Festival
Sutradara Teodora Ana Mihai dan Sode Yukiko berbicara dalam sesi Tokyo Talks di Tokyo International Film Festival.

SULAWESI TENGAH — Dua sutradara perempuan, Teodora Ana Mihai dan Sode Yukiko, mengungkap bahwa mereka pernah menyembunyikan kehamilan dan kelahiran anak dari rekan kerja di industri film. Keduanya berbicara dalam sesi Tokyo Talks di Tokyo International Film Festival (TIFF) yang menyediakan layanan pengasuhan anak bagi peserta. Pengakuan ini membuka diskusi soal tekanan profesional yang dihadapi sutradara perempuan saat membangun karier dan keluarga.

Sesi tersebut dimoderatori Kondo Kanako dari tim program festival dan menyediakan layanan pengasuhan anak bagi peserta. Sejumlah pengasuh menjaga bayi-bayi di ruangan belakang venue, dan suara mereka sesekali terdengar selama diskusi berlangsung.

Film yang Dibawa ke Tokyo

Mihai membawa "Heysel 85" yang tampil di kompetisi utama. Sode hadir dengan "All the Lovers in the Night" yang sebelumnya tayang perdana di Cannes dan masuk Gala Selection Tokyo.

Bagi Sode, film tersebut menjadi karya teatrikal pertamanya dalam lima tahun setelah "Aristocrats". Ia juga pernah terbuka soal menyembunyikan kelahiran anak keduanya dalam sesi festival 2021 bersama sutradara Indonesia Kamila Andini.

Sode bahkan merahasiakan kabar itu dari produser yang ia percaya. Ia yakin tawaran kerja akan berhenti begitu orang tahu ia baru punya bayi.

Perubahan di Industri Film Jepang

Sode menilai situasi di dunia film Jepang mulai bergeser. Ia kini lebih sering mendengar sutradara perempuan yang lebih muda darinya memiliki anak, begitu pula di kalangan kru.

"I've started to hear quite often that female directors a bit younger than me have had children, and for crew members too, I feel it has become more possible to choose to give birth than it was five years ago," ujar Sode.

Meski begitu, ia mengakui set film Jepang masih berat dari sisi jam kerja. Syuting harus cepat dalam waktu singkat karena tekanan anggaran, sehingga membawa anak ke lokasi tidak akan menimbulkan protes terbuka, tetapi suasana tidak akan ramah.

Sode menyebut unit sutradara Nishikawa Miwa dan Kore-eda Hirokazu pernah menggelar "family days" yang mengundang pasangan dan anak kru untuk datang ke set.

Tekanan yang Sama di Eropa

Mihai menegaskan tekanan serupa juga dirasakan di Eropa. Ia merampungkan "Heysel 85" yang menampilkan adegan kerumunan besar dalam 25 hari syuting.

"It was crushing," kata Mihai. Ia mengatasinya dengan mengunci pendekatan sejak awal dan mengandalkan long take, meski harus merelakan sejumlah hari syuting karena memilih format 16mm sesuai tampilan yang diinginkan.

Mihai berusia 37 tahun saat putrinya lahir. Ia memutuskan sejak awal tidak akan memilih antara menjadi ibu dan profesi yang ia anggap sebagai passion, tetapi rasa takut terhadap aturan sosial membuatnya menunda membangun keluarga.

Saat hamil, ia hanya memberi tahu sedikit orang di industri. Karena saat itu musim dingin dan tubuhnya cukup kurus, ia masih menyembunyikan kehamilan di balik pakaian hingga usia enam bulan.

"I was really conflicted with myself, because I was already feeling like a bad mother, because I was hiding something so beautiful and actually so natural," ujar Mihai. "The censorship came also from me and my mentality, because that's how we grew up thinking."

Bukti Diri Tiga Kali Lipat

Mihai menyebut dirinya harus membuktikan kemampuan jauh lebih keras dibanding rekan pria. Ia mengaku bekerja tanpa henti demi membangun karier sekaligus mengasuh anak.

"To get here, I needed to prove myself three times more than many of my male colleagues," katanya. "I killed myself with work. I really did nothing else but work and be a mom, work and be a mom."

Ibunya sempat ikut berpindah-pindah ke lokasi syuting untuk mengasuh anak-anaknya. Namun ibunya meninggal dalam kecelakaan mobil tragis, sehingga bantuan itu hilang.

Sode tinggal di Kanazawa bersama suaminya yang sering ke Tokyo untuk bekerja. Saat syuting, ia pindah sendiri ke ibu kota selama sekitar enam bulan dan jauh dari anak-anak.

Ia membandingkan pengaturan itu dengan pasangan suami istri yang menjalani kompetisi rintangan "Sasuke". Sode juga pernah gagal mendapatkan tempat penitipan anak untuk buah hatinya, yang membuat kariernya berhenti total dan menjadi salah satu alasan keluarga pindah dari Tokyo.

"When I could put my child in daycare and throw myself into film work, it truly felt like I'd been let out of prison," ujar Sode. "There's probably something very self-centered in me, but meeting all kinds of people through this work is what makes me feel alive."

Menolak Label Egois

Mihai menolak anggapan bahwa keinginan untuk berkarya lebih banyak itu egois. Ia menegaskan dirinya lebih dari sekadar anak, ibu, atau pembuat film, dan mendorong anak-anaknya untuk berpikir berbeda darinya.

Putrinya yang kini hampir 9 tahun datang ke set pada hari-hari tertentu dan mengangkat diri sebagai asisten tidak resmi. Ia mengenal para pemain dan kru. Anak-anak Sode belum pernah datang ke lokasi syutingnya.

Diskusi ini memperlihatkan bahwa persoalan pengasuhan anak masih menjadi tantangan struktural bagi sutradara perempuan, baik di Jepang maupun Eropa. Perubahan budaya kerja di industri film menjadi kunci agar karier dan keluarga bisa berjalan tanpa harus disembunyikan.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: variety.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks