PALU — Sulawesi Tengah resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Pesparawi Nasional XV yang akan digelar pada tahun 2029. Keputusan ini diambil dalam Musyawarah Nasional Lembaga Pengembangan Pesparawi Nasional (LPPN) setelah provinsi tersebut meraih dukungan mayoritas peserta.
Bagi warga Kristen di Sulawesi Tengah, kabar ini menjadi angin segar. Selama ini, banyak dari mereka harus mengeluarkan biaya besar untuk mengikuti Pesparawi Nasional di luar daerah. Kini, ajang bergengsi itu akan hadir di halaman rumah sendiri.
Apa dampak langsung bagi warga Sulawesi Tengah?
Dampak paling terasa adalah dari sisi ekonomi. Perhelatan skala nasional yang diikuti ribuan peserta dari seluruh Indonesia dipastikan menggerakkan sektor UMKM, perhotelan, dan transportasi lokal. Hotel-hotel di Palu dan sekitarnya diprediksi penuh selama sepekan penyelenggaraan.
Selain itu, persiapan infrastruktur seperti gedung pertemuan, tempat ibadah, dan akses jalan akan dipercepat. Pemprov Sulawesi Tengah disebut akan mengalokasikan anggaran khusus untuk renovasi venue dan penunjang acara.
Mengapa Sulawesi Tengah terpilih?
Dukungan mayoritas peserta Munas LPPN menjadi faktor utama. Sulawesi Tengah dinilai memiliki komitmen kuat dari pemerintah daerah dan dukungan komunitas gereja yang solid. Provinsi ini juga dinilai siap dari segi keamanan dan kerukunan antarumat beragama.
Ketua LPPN menyebut bahwa Sulawesi Tengah menunjukkan keseriusan dalam presentasi dan proposal yang diajukan. Hal ini menjadi pembeda dibanding provinsi lain yang juga mengajukan diri.
Kapan persiapan dimulai?
Persiapan akan dimulai tahun depan, jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan pada 2029. Pemprov Sulawesi Tengah akan membentuk panitia daerah yang melibatkan tokoh agama, budayawan, dan pelaku usaha. Koordinasi dengan pemerintah pusat juga sudah berjalan.
Warga diharapkan mulai bersiap, terutama mereka yang bergerak di sektor jasa dan akomodasi. Peluang kerja temporer juga terbuka lebar selama masa persiapan dan pelaksanaan acara.
Berapa banyak peserta yang diharapkan hadir?
Pesparawi Nasional biasanya diikuti ribuan peserta dari 38 provinsi, termasuk kontingen dari Papua, Aceh, hingga NTT. Jika ditambah official, pendamping, dan keluarga, total pengunjung bisa mencapai puluhan ribu orang selama sepekan.
Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Sulawesi Tengah yang belum pernah menggelar acara nasional sebesar ini. Namun, pengalaman menjadi tuan rumah event olahraga dan budaya sebelumnya diyakini menjadi modal berharga.
Apa yang perlu disiapkan warga?
Warga yang memiliki homestay atau rumah kos bisa mulai mendaftarkan propertinya ke dinas pariwisata setempat. Pelaku UMKM bisa menyiapkan produk khas Sulawesi Tengah seperti kopi, kain tenun, dan oleh-oleh lainnya.
Pemprov juga akan menggelar pelatihan sadar wisata bagi masyarakat di sekitar lokasi acara. Tujuannya agar warga bisa menjadi tuan rumah yang baik dan mendapatkan manfaat ekonomi maksimal.