MOROWALI — Gemuruh mesin smelter di Kawasan Industri Morowali (IMIP) memang menjadi pemandangan utama. Namun, di balik hiruk-pikuk industri nikel itu, pemerintah daerah mulai merawat denyut ekonomi lain yang selama ini hidup di pedalaman dan pesisir.
Pemprov Sulteng kini menggencarkan konsep “tiga kaki” ekonomi: pertanian, perikanan, dan pariwisata. Tujuannya jelas—agar ekonomi daerah tidak mudah goyah jika satu sektor terguncang.
Mengapa Keseimbangan Sektor Ekonomi Mendesak?
Dokumen TOR Liputan IMIP yang menjadi dasar rencana peliputan pekan ini menyebutkan bahwa keseimbangan antarsektor penting untuk pertumbuhan berkelanjutan. “Keseimbangan ini penting supaya pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan dampaknya merata,” demikian tertulis dalam dokumen tersebut per 6 Juni 2026.
Di Bahodopi, migrasi tenaga kerja menjadi tantangan sekaligus peluang. Banyak pendatang membuka usaha, namun nasib petani dan nelayan lokal masih menjadi tanda tanya. Dinas Pertanian Sulteng ditanya soal akses pasar, permodalan, dan teknologi agar mereka tidak tertinggal.
Nelayan di Antara Dua Wajah Industri
Di laut, nelayan Morowali dihadapkan pada dua situasi. Di satu sisi, ada potensi hilirisasi seafood yang menjanjikan. Di sisi lain, mereka harus menjaga sumber daya laut tetap lestari di tengah aktivitas industri. Pemerintah akan memetakan desa-desa pesisir Bahodopi yang memiliki potensi besar di sektor ini.
Wisata Bahari dan Community Tourism Jadi Andalan Baru
Sementara di darat, Dinas Pariwisata Sulteng didorong mengembangkan community tourism. Mulai dari wisata mangrove hingga atraksi budaya, semuanya dirancang dengan melibatkan UMKM dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis). Harapannya, industri besar seperti IMIP turut berkontribusi lewat program CSR.
Untuk menguji keseriusan rencana ini, tiga dinas akan dimintai data konkret. Berapa persen kontribusi pertanian, perikanan, dan pariwisata terhadap pendapatan daerah Sulteng sepanjang 2023 hingga kuartal II 2026? Berapa banyak warga yang terserap di masing-masing sektor?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu akan menjadi potret apakah Morowali benar-benar sudah memiliki kaki ekonomi yang kokoh selain nikel.