Pencarian

Dominasi Sektor Agraris di Pasar Kerja Sulteng Diprediksi Bertahan Hingga 2026, Begini Dampaknya ke Warga

Sabtu, 30 Mei 2026 • 16:34:37 WIB
Dominasi Sektor Agraris di Pasar Kerja Sulteng Diprediksi Bertahan Hingga 2026, Begini Dampaknya ke Warga
Dominasi sektor agraris di Sulawesi Tengah diperkirakan bertahan hingga 2026 dengan penyerapan tenaga kerja terbesar.

PALU — Proyeksi ketenagakerjaan di Sulawesi Tengah hingga 2026 menunjukkan bahwa sektor agraris masih akan menjadi tulang punggung utama penyerapan tenaga kerja. Data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi setempat mengindikasikan bahwa lebih dari separuh angkatan kerja di provinsi ini menggantungkan hidup pada kegiatan pertanian, perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Kondisi ini tidak banyak berubah dalam satu dekade terakhir, menjadikan struktur ekonomi Sulteng masih sangat rentan terhadap guncangan alam seperti banjir dan kekeringan.

Apa Dampak Dominasi Sektor Agraris bagi Pencari Kerja di Sulteng?

Dampak paling terasa adalah minimnya lapangan kerja formal di sektor industri dan jasa. Bagi warga di daerah seperti Kabupaten Banggai atau Morowali, pilihan pekerjaan non-agraris masih sangat terbatas. Akibatnya, banyak pemuda yang akhirnya memilih merantau ke kota-kota besar di luar Sulteng atau bekerja di sektor informal dengan penghasilan tidak tetap. Dominasi sektor ini juga membuat tingkat upah di pedesaan cenderung stagnan karena pasokan tenaga kerja yang melimpah.

Siapa yang Paling Terdampak dari Struktur Tenaga Kerja Ini?

Kelompok yang paling terdampak adalah buruh tani harian lepas dan nelayan tradisional. Mereka tidak memiliki jaminan penghasilan tetap, apalagi jaminan sosial ketenagakerjaan. Ketika musim kemarau panjang atau gagal panen tiba, pendapatan mereka bisa turun drastis. Pemerintah provinsi melalui dinas terkait sebenarnya telah mendorong program diversifikasi usaha, seperti pengolahan hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, namun adopsinya di tingkat desa masih berjalan lambat.

Mengapa Sektor Agraris Masih Mendominasi Hingga 2026?

Penyebab utamanya adalah lambatnya pertumbuhan sektor industri pengolahan dan manufaktur di luar kawasan industri besar seperti Morowali. Investasi di sektor hilirisasi sawit dan nikel memang tumbuh, tetapi penyerapan tenaga kerjanya tidak sebesar sektor agraris yang sifatnya padat karya. Selain itu, infrastruktur pendukung seperti jalan usaha tani dan irigasi yang belum merata membuat petani enggan beralih profesi. Kepala Dinas Tenaga Kerja Sulteng menyebut bahwa transformasi struktural ini membutuhkan waktu karena harus diiringi peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal.

Bagaimana Pemerintah Daerah Menyikapi Proyeksi Ini?

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah telah menyusun rencana aksi daerah ketenagakerjaan yang fokus pada pelatihan vokasi berbasis sektor unggulan. Program pelatihan menjahit, perbengkelan, dan tata boga mulai digencarkan di Balai Latihan Kerja (BLK) di Palu dan Luwuk. Namun, program ini masih terkendala oleh rendahnya minat generasi muda terhadap sektor agraris itu sendiri. Banyak anak muda di desa lebih memilih bekerja di sektor jasa atau menjadi pengemudi ojek daring dibandingkan mengolah lahan pertanian keluarga.

Apakah Ada Sektor Lain yang Mulai Tumbuh?

Di luar sektor agraris, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif mulai menunjukkan geliat di beberapa titik seperti Kepulauan Togean dan kawasan Danau Poso. Namun, kontribusinya terhadap penyerapan tenaga kerja masih sangat kecil jika dibandingkan dengan sektor pertanian. Sektor konstruksi juga tumbuh seiring pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan, tetapi sifatnya musiman dan tidak bisa diandalkan sebagai mata pencaharian utama jangka panjang bagi mayoritas warga Sulteng.

Bagikan
Sumber: sulteng.pikiran-rakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks