SULAWESI TENGAH — Kementerian Kesehatan mencatat isu imunisasi jadi salah satu topik hoaks paling banyak beredar di Indonesia, dengan sekitar 2.600 konten keliru terdeteksi Komdigi. Buat ibu yang masih ragu soal jadwal vaksin si kecil, berikut penjelasan lengkap soal asal keraguan, dampaknya, dan cara menyikapinya dengan tenang.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyebut persoalan misinformasi kesehatan bukan lagi isu lokal. Dalam Global Risks Report 2026 yang dirilis World Economic Forum, misinformasi dan disinformasi menempati posisi risiko global tertinggi kedua.
Laporan itu jadi pengingat bahwa informasi keliru di media sosial bisa mengancam pengetahuan sekaligus kebijakan kesehatan. Imunisasi anak termasuk yang paling terdampak.
Kenapa Isu Imunisasi Jadi Sasaran Hoaks
Program imunisasi menyasar jutaan orang, termasuk bayi dan anak-anak. Skala besar ini membuat isu vaksin selalu menarik dibicarakan, bahkan oleh pihak yang tak punya latar belakang medis.
Aji menyebut program imunisasi juga berkaitan dengan berbagai kepentingan, termasuk industri. Kombinasi faktor itu membentuk keraguan, kekhawatiran, kesalahpahaman, hingga penolakan di tengah masyarakat.
"Artinya memang keraguan pada warga masyarakat itu memang nyata dan ini butuh informasi yang kredibel, berbasis bukti, kita menjawab dengan edukasi tersebut," ujarnya dalam media briefing bersama RCCE+ Indonesia, Kamis (29/10/2026).
Dampak Hoaks pada Keputusan Orang Tua
Informasi keliru tidak berhenti di kolom komentar. Dampaknya nyata: orang tua menunda jadwal imunisasi, menolak vaksin tertentu, atau mengikuti anjuran yang tidak berdasar.
Komdigi mencatat sekitar 2.600 hoaks selama beberapa tahun terakhir, dengan isu imunisasi sebagai salah satu topik yang paling sering muncul. Angka ini menunjukkan bahwa konten keliru soal vaksin anak beredar cukup masif di ruang digital Indonesia.
Bagi ibu yang aktif di grup WhatsApp atau media sosial, paparan hoaks bisa datang kapan saja. Sering kali bentuknya bukan artikel panjang, melainkan pesan singkat berisi klaim menakutkan tanpa sumber jelas.
Cara Menyikapi Keraguan Soal Vaksin Anak
Kemenkes menegaskan pendekatan yang dipakai bukan sekadar imbauan agar orang tua segera memberikan vaksin. Pemerintah perlu memahami alasan di balik penolakan atau kekhawatiran tersebut.
Aji menekankan pentingnya pendekatan yang tidak menghakimi. Petugas dan pihak terkait diminta mendengarkan kekhawatiran warga lebih dulu sebelum memberi penjelasan.
"Karena kita melihat keraguan ini dengan empatik, tidak menghakimi, mendengarkan, memahami, dan bisa menjelaskan dengan baik," pesannya.
Untuk ibu di rumah, ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan saat menemukan informasi soal imunisasi:
- Cek sumbernya. Pastikan informasi berasal dari Kemenkes, IDAI, atau fasilitas kesehatan resmi, bukan pesan berantai tanpa nama.
- Tanyakan langsung ke bidan atau dokter anak saat posyandu. Mereka bisa menjelaskan manfaat dan efek samping vaksin sesuai kondisi si kecil.
- Jangan buru-buru menyebar pesan yang belum terverifikasi. Cek dulu lewat situs resmi atau layanan cek fakta.
- Catat jadwal imunisasi anak di buku KIA atau aplikasi kesehatan agar tidak ada yang terlewat.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter
Kalau si kecil sedang demam, baru sembuh dari sakit, atau punya riwayat alergi tertentu, tanyakan dulu ke dokter sebelum imunisasi. Kondisi khusus seperti ini memang perlu penyesuaian jadwal.
Ibu juga sebaiknya berkonsultasi jika muncul reaksi setelah vaksin, misalnya demam tinggi yang tidak turun atau bengkak di area suntikan yang makin membesar. Tenaga kesehatan bisa menilai apakah reaksi tersebut normal atau perlu penanganan lanjutan.
Keraguan soal imunisasi itu wajar, dan Kemenkes sendiri mengakui hal tersebut nyata di masyarakat. Yang penting, keputusan soal kesehatan anak diambil berdasarkan informasi berbasis bukti, bukan pesan berantai yang sumbernya tidak jelas.