SULAWESI TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1% ke level 5.384,97 pada akhir sesi I perdagangan Senin (26/10). Tekanan datang dari saham perbankan berkapitalisasi besar yang kompak turun, dipimpin BBRI yang melemah 1,37% ke Rp 2.870 per saham.
Sepanjang sesi pagi, indeks sempat menyentuh level terendah 5.349,75 atau turun 1,60% secara intraday. Pelemahan tersebut membawa kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun ke Rp 9.505,66 triliun hingga tengah hari.
Data RTI Business mencatat volume perdagangan mencapai 18,57 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 7,59 triliun. Frekuensi perdagangan tercatat 1.143.355 kali.
Dari sisi breadth pasar, tekanan jual mendominasi. Sebanyak 474 saham melemah, jauh melampaui 189 saham yang menguat, sementara 128 saham bergerak stagnan.
Empat Bank Besar Serempak Turun
Pelemahan indeks diperberat oleh koreksi serentak pada saham perbankan berkapitalisasi jumbo. BBRI memimpin dengan penurunan 1,37% ke Rp 2.870 per saham.
BBNI melemah 1,17% ke Rp 3.380 per saham, BBCA turun 1,09% ke Rp 4.970 per saham, dan BMRI melemah 1,03% ke Rp 3.860 per saham.
Koreksi pada kelompok bank besar ini signifikan karena bobot keempatnya di IHSG sangat besar. Pergerakan saham perbankan pelat merah dan BBCA kerap menjadi penentu arah indeks harian.
Breadth Pasar Menunjukkan Tekanan Jual Meluas
Rasio saham melemah terhadap saham menguat mencapai hampir 2,5 banding 1. Angka ini menandakan tekanan jual tidak terkonsentrasi di satu sektor saja, melainkan menyebar ke banyak emiten.
Nilai transaksi Rp 7,59 triliun pada sesi I tergolong moderat. Artinya, pelemahan indeks lebih didorong oleh aksi jual bertahap ketimbang panic selling dengan volume besar.
Bagi investor, kombinasi indeks turun 1% dan breadth negatif menjadi sinyal bahwa pasar sedang dalam fase risk-off. Pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur di saham siklikal dan perbankan, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga dan likuiditas.
Yang Perlu Dicermati pada Sesi II
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada apakah tekanan jual berlanjut hingga penutupan. Jika saham bank besar kembali melemah, IHSG berpotensi menguji level 5.349,75 yang menjadi titik terendah intraday sesi I.
Sebaliknya, bila muncul aksi beli selektif pada saham berkapitalisasi besar, indeks punya ruang untuk memangkas koreksi. Data aliran dana asing (net buy/sell) pada sesi II akan menjadi indikator penting arah pasar.
Pelaku pasar juga mencermati perkembangan sentimen global yang memengaruhi persepsi risiko terhadap aset emerging market, termasuk Indonesia. Pelemahan serentak saham perbankan hari ini menunjukkan investor masih hati-hati menempatkan dana di sektor paling sensitif terhadap kebijakan moneter.