SULAWESI TENGAH — Konferensi Creative Investors' Conference di San Sebastian menjadi ajang para eksekutif distributor independen Amerika Serikat merayakan capaian box office musim panas yang memecahkan rekor. Elissa Federoff dari Neon menyebut pertumbuhan ini sebagai pemulihan nyata pascapandemi, sementara Rob Williams dari Sumerian Pictures menilai pasar film indie kini punya peluang baru. Perhatian pun bergeser ke Cannes sebagai pintu masuk strategis bagi film berbahasa Inggris.
Neon, distributor independen yang sudah tujuh kali berturut-turut meraih Palme d'Or di Cannes, menjadi salah satu suara paling vokal dalam sesi hari pertama konferensi yang digelar Selasa di San Sebastian. Elissa Federoff, kepala distribusi Neon, menilai pertumbuhan box office musim panas tahun ini bukan sekadar angka, melainkan tanda pemulihan pasar yang selama ini tertekan.
"Saya pikir ini adalah pemulihan dan menurut saya ini hasil yang fenomenal," ujar Federoff dalam sesi tersebut. "Setiap tahun sejak pandemi, kami melihat pertumbuhan, dan itu luar biasa untuk disaksikan."
Perubahan Perilaku Penonton Jadi Peluang
Federoff menolak membaca kebangkitan streaming, gim, dan platform sosial sebagai ancaman murni bagi bisnis bioskop. Menurutnya, kanal-kanal baru itu justru membuka jalan bagi film yang sebelumnya sulit menjangkau penonton teater.
"Kami melihat peluang dari hal-hal yang mungkin dulu kami anggap sebagai kemunduran," katanya. "Kami melihat hal-hal luar biasa terjadi di platform sosial, dan biasanya kami akan bilang, 'Oh, itu mengurangi bisnis teater kami.' Padahal kenyataannya, beberapa film terbaik kami tahun ini datang dari kreator YouTube."
Ia mendorong industri untuk berhenti terus membandingkan diri dengan level sebelum COVID-19. Federoff menyarankan agar pelaku industri menetapkan patokan baru dan melihat ke mana pasar bisa bergerak dari titik itu.
Sumerian Pictures Andalkan Jaringan Musik
Optimisme serupa datang dari Rob Williams, presiden Sumerian Pictures, perusahaan yang mulai beroperasi pada pertengahan 2025. Perusahaan ini dibangun di atas fondasi label musik Sumerian Records, sehingga posisinya dinilai cocok untuk menangani film yang punya kaitan dengan dunia musik.
Rilisan pertama mereka, "Mile End Kicks," dibintangi Barbie Ferreira sebagai jurnalis musik berusia awal 20-an. Williams menyebut film itu punya banyak lagu dan kampanye media sosial yang agresif, pendekatan yang menurutnya jarang dilakukan distributor lain.
Sumerian juga mengakuisisi "Josephine" pada awal tahun ini. Meski film tersebut tidak punya kaitan musik, Williams menilai karya itu cukup kuat untuk didukung dan dibangunkan audiensnya sendiri.
Cannes Semakin Penting bagi Film Indie AS
Adele Romanski dari rumah produksi Pastel Pictures menyampaikan pandangan yang mungkin mengejutkan sebagian eksekutif Eropa di ruangan itu. Menurutnya, Festival Film Cannes kini jauh lebih penting bagi pasar Amerika Serikat, khususnya untuk film indie berbahasa Inggris.
"Saya bayangkan semua orang akan memutar mata mendengar ini, tapi Cannes memang menjadi lebih fokus," kata Romanski. "Jelas itu impian setiap sutradara untuk tayang di sana, tapi dari perspektif AS, dulu Cannes tidak selalu sepenting itu. Distributor kadang enggan mengeluarkan biaya agar film mereka bisa tayang di sana."
Cannes sendiri menjadi tempat premier "Club Kid" awal tahun ini, yang memicu perang penawaran dan akhirnya dimenangkan A24 dengan nilai 17 juta dolar AS. Romanski mengaku kini berpikir berbeda soal membawa debut atau film kedua sutradara ke Cannes, karena di sanalah peluang teater, dukungan, dan pendanaan internasional lebih terlihat.
Federoff menegaskan lanskap global kini lebih penting dari sebelumnya. Ia menyebut pasar internasional sebagai ruang tempat peluang nyata bagi film indie terus terbuka, seiring perilaku penonton yang berubah dan kanal distribusi yang semakin beragam.