Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memfasilitasi pengembangan daerah melalui program Berani Mombangu di Kabupaten Donggala, dengan menempatkan 50 fasilitator desa di wilayah berangka kemiskinan ekstrem tinggi. Program itu kini memasuki tahap pendekatan sosial, memilih Kelurahan Boneoge dan Kabonga Kecil di Kecamatan Banawa sebagai pilot project pengembangan SDM, SDA, dan potensi wisata. Fasilitator bertugas menyelaraskan data kemiskinan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang jadi acuan pemerintah pusat.
PALU — Program Berani Mombangu menyasar dua kelurahan di Kecamatan Banawa, Donggala, sebagai wilayah percontohan. Tim fasilitator menilai Boneoge dan Kabonga Kecil punya potensi sumber daya manusia, sumber daya alam, serta wisata yang bisa dikembangkan. Pendekatan sosial jadi langkah awal sebelum program teknis dijalankan.
Koordinator Kecamatan Banawa, Aspandi, menyebut pemilihan dua kelurahan itu bukan tanpa alasan. Menurut dia, wilayah tersebut dinilai paling siap menerima program pengembangan.
"Pemilihan dua kelurahan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program, dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat," katanya di Donggala, Senin.
Bakti Sosial hingga Pendampingan Legalitas Wisata
Sejumlah kegiatan disiapkan tim fasilitator selama mendampingi warga. Mulai dari bakti sosial lingkungan, membantu pelayanan posyandu, pengadaan apotek hidup, hingga pengaktifan organisasi kepemudaan. Ada pula pendampingan legalitas bagi potensi wisata yang hendak dikembangkan warga.
Selain kegiatan lapangan, tim menggelar Focus Group Discussion (FGD) untuk menyerap aspirasi, persoalan, dan masukan dari masyarakat. FGD melibatkan pemuda serta tokoh masyarakat setempat.
"FGD ini diharapkan menjadi wadah bersama untuk duduk berdiskusi mengenai berbagai permasalahan di wilayah tersebut, baik terkait potensi wisata, peran kepemudaan maupun hal-hal lain yang perlu kami sampaikan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah," jelas Aspandi.
Kelurahan Sambut Positif Ruang Diskusi Baru
Sekretaris Lurah Boneoge, Moh. Ikbal, menilai FGD mempererat komunikasi antara pemerintah kelurahan dan warga. Menurut dia, forum itu juga melibatkan tokoh masyarakat dan kalangan pemuda.
"Forum ini diharapkan bisa menjadi wadah komunikasi baru untuk bertukar pikiran sekaligus membantu kerja-kerja pemerintahan di tingkat kelurahan," kata Ikbal.
Lurah Kabonga Kecil, Dirham, menyampaikan hal senada. Ia mengapresiasi pemilihan wilayahnya sebagai pilot project di Kecamatan Banawa. Dirham menyebut FGD menjadi ruang bagi pemerintah kelurahan menyampaikan gagasan, termasuk rencana pengembangan wisata lokal kepada generasi muda.
50 Fasilitator Diterjunkan, Data Kemiskinan Diselaraskan dengan DTSEN
Sekretaris Bappeda Sulawesi Tengah, Dony Kurnia Budjang, menjelaskan program Berani Mombangu diarahkan untuk mempercepat pengentasan kemiskinan di Donggala. Pihaknya sudah menurunkan 50 fasilitator desa ke sejumlah wilayah.
"Kami sudah menurunkan sebanyak 50 orang fasilitator desa yang siap ditempatkan di berbagai wilayah, yang memiliki angka kemiskinan ekstrem cukup tinggi di Donggala," ungkap Dony.
Pembentukan fasilitator desa dilatarbelakangi masih tingginya angka kemiskinan di Kabupaten Donggala. Tercatat 45 ribu jiwa masuk kategori miskin pada 2025.
Ke depan, para fasilitator bertugas menyesuaikan data kemiskinan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Data itu menjadi acuan pemerintah dalam menjalankan program pengentasan kemiskinan.