PALU — Pembukaan ditandai pemukulan gong oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Persatuan Tenis Seluruh Indonesia (PP PELTI), Prof. Dr. H. A.M. Nurdin Halid, SE., MM. Dari total hadiah Rp200 juta, sebesar Rp50 juta merupakan sumbangan Nurdin Halid.
Peningkatan juga terlihat dari jumlah peserta. Tahun sebelumnya turnamen diikuti peserta dari tujuh provinsi, kini menjadi 11 provinsi yang dikenal sebagai daerah penghasil atlet tenis berprestasi di Indonesia.
11 Provinsi Pengirim Peserta
Ke-11 provinsi tersebut yakni Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah.
Peserta juga berasal dari sejumlah kabupaten dan kota, di antaranya Balikpapan, Mamuju, Sidenreng Rappang, Polewali Mandar, Palopo, Banggai, Tolitoli, Morowali, Poso, Donggala, Kota Palu, Parigi Moutong, serta Sigi.
Kategori Dewasa dan Kelompok Umur Dipertandingkan
Turnamen tahun ini mempertandingkan sejumlah kategori, yakni beregu putra, beregu putri, kelompok bebas perorangan putra, kelompok bebas perorangan putri, serta kategori beregu lainnya sesuai ketentuan pertandingan.
Selain kategori umum, panitia menghadirkan kelompok umur sebagai bagian dari pembinaan atlet tenis usia muda di Sulawesi Tengah. Kelompok umur yang dipertandingkan meliputi usia 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, dan 18 tahun.
Bagian dari Dies Natalis ke-45 Untad dan Haornas
Rektor Untad, Prof. Dr. Ir. Amar, ST., MT., mengatakan Open Turnamen Tenis Rektor Cup III merupakan bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-45 Untad sekaligus berkaitan dengan momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang diperingati setiap 9 September.
Menurut Prof Amar, olahraga tidak semata-mata berkaitan dengan kompetisi dan pencapaian prestasi, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun manusia yang sehat, disiplin, tangguh, positif, dan berkarakter.
"Keolahragaan itu bukan sekadar kompetisi, tetapi bagian dari membangun manusia yang sehat, manusia yang berdisiplin, tangguh, positif, dan berkarakter," ujar Prof Amar.
Ia menilai budaya olahraga perlu menjadi bagian dari kehidupan, termasuk di lingkungan sivitas akademika Untad. Kegiatan olahraga di lingkungan kampus diharapkan tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga membangun kebugaran dan karakter mahasiswa.