SULAWESI TENGAH — Pelemahan rupiah yang terus berlanjut dalam beberapa pekan terakhir memaksa pemerintah turun tangan. Pada perdagangan Selasa pagi (9/6/2026), nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 18.229 per dolar AS, atau melemah hampir 10 persen sejak awal tahun yang masih bertengger di kisaran Rp 16.683. Kondisi ini membuat harga kedelai impor membengkak, mengancam industri tahu dan tempe nasional yang nyaris sepenuhnya bergantung pada impor.
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengakui tekanan nilai tukar menjadi pemicu utama. "Kedelai yang hampir 100 persen impor itu, tentu akan terkait harganya, mungkin tidak naik tapi ukurannya kurang," ujarnya di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Hasil rapat koordinasi memutuskan pemberian subsidi sebesar Rp 2.000 per kilogram untuk 250.000 ton kedelai tahap pertama. Skema ini akan dijalankan oleh Perum Bulog yang bertanggung jawab atas teknis distribusi di lapangan.
"Tadi kita putuskan, disubsidi Rp 2.000 per kilogram, pemerintah menyediakan, untuk 250.000 ton pertama, melalui Bulog," beber Zulkifli. Ia mencontohkan, kenaikan dolar dari Rp 16.500 ke Rp 18.000 sebenarnya tidak sampai Rp 2.000, namun pemerintah memutuskan memberikan subsidi penuh untuk menjaga stabilitas harga di tingkat perajin.
Keputusan ini akan diteruskan ke Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk ditindaklanjuti secara teknis. "Kami akan buat surat ke sana, tapi ini sudah lapor ke Bapak Presiden," kata Zulkifli.
Di sisi lain, Badan Pangan Nasional (Bapanas) tidak tinggal diam. Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengingatkan importir dan distributor untuk tidak semena-mena menaikkan harga di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) yang telah ditetapkan.
"Kami sudah memastikan ke importir untuk menjaga agar harga acuan dipastikan diberlakukan. Jangan sampai menaikkan melebihi harga acuan," kata Ketut dalam keterangan resmi.
Pemerintah bahkan menyiapkan sanksi tegas bagi pelanggar. Mulai dari pencabutan izin distributor hingga penahanan izin importir jika terbukti menjual kedelai di atas batas kewajaran. "Keuntungannya jangan berlebihan sehingga kewajaran perlu dijaga," tegasnya.
Meski mengakui harga kedelai impor naik, Ketut menilai kenaikan saat ini masih dalam kategori wajar dan sesuai dengan HAP. Namun, pengawasan akan terus diperketat seiring tekanan nilai tukar yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejumlah analis bahkan memprediksi rupiah berpotensi melemah hingga Rp 19.000 per dolar AS dalam waktu dekat.