PARIGI MOUTONG — Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) di Sulawesi Tengah terus mengukuhkan diri sebagai salah satu sentra durian unggulan nasional. Pemerintah daerah kini membidik pasar ekspor secara berkelanjutan untuk varietas durian montong yang menjadi andalan petani di 17 kecamatan. Langkah ini diambil untuk meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus memperluas jangkauan pemasaran petani lokal.
Durian montong asal Parimo memiliki keunggulan rasa yang khas dan tekstur daging buah yang tebal. Cita rasa manis legit dengan sedikit pahit menjadi ciri yang dicari konsumen mancanegara, terutama di Asia Timur dan Timur Tengah. Potensi ini mendorong pemkab untuk serius menyiapkan ekosistem produksi yang sesuai standar ekspor.
Untuk menembus pasar internasional, petani di Parimo harus memenuhi sejumlah persyaratan ketat. Mulai dari penerapan good agricultural practices (GAP) hingga sertifikasi phytosanitary yang menjamin buah bebas hama dan penyakit. Pemerintah daerah melalui dinas terkait telah mulai memberikan pendampingan teknis kepada kelompok tani di lapangan.
Jika target ekspor berkelanjutan terealisasi, petani durian di Parimo bisa menikmati harga jual yang jauh lebih stabil dan tinggi dibandingkan pasar lokal. Selama ini, harga durian montong di tingkat petani kerap fluktuatif tergantung musim panen. Dengan akses ekspor, risiko kerugian akibat harga anjlok saat panen raya bisa ditekan.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Parimo menyebut bahwa pihaknya terus mendorong petani untuk membentuk kelompok usaha bersama. Tujuannya agar proses sortasi, grading, dan pengemasan buah bisa dilakukan secara kolektif dan konsisten. "Kualitas dan kontinuitas pasokan adalah kunci utama agar buyer luar negeri percaya," ujarnya.
Pemkab Parimo menargetkan pengiriman perdana durian montong ke luar negeri bisa dimulai pada musim panen mendatang. Saat ini, sejumlah calon pembeli dari Malaysia dan Tiongkok telah menjalin komunikasi awal dengan pemerintah daerah. Proses negosiasi harga dan volume pengiriman masih berlangsung.
Selain durian montong, beberapa varietas lokal lain seperti durian petruk dan durian kane juga mulai dilirik pasar ekspor. Namun, fokus utama tetap pada montong karena produktivitasnya yang lebih tinggi dan ukuran buah yang seragam. Petani di Parimo pun optimistis bisa memenuhi permintaan pasar global.
Apakah semua petani bisa ikut serta dalam program ekspor ini?
Tidak semua petani bisa langsung bergabung. Mereka harus tergabung dalam kelompok tani atau gapoktan yang telah mengikuti pelatihan standar ekspor dan memiliki lahan yang terdaftar secara resmi.
Berapa perkiraan harga jual durian montong untuk pasar ekspor?
Harga ekspor diperkirakan bisa mencapai dua hingga tiga kali lipat harga lokal, tergantung grade dan negara tujuan. Namun, angka pasti masih dalam tahap negosiasi dengan calon pembeli.
Apa kendala utama yang dihadapi petani saat ini?
Kendala terbesar adalah keterbatasan infrastruktur pascapanen seperti gudang pendingin dan akses transportasi ke pelabuhan. Pemkab Parimo tengah mengupayakan bantuan peralatan dari APBD dan kerja sama dengan pihak swasta.