Keluhan Air Keruh di Poso, Dirut PDAM Buka-bukaan soal Infrastruktur Tua dan Minim Penyertaan Modal

Penulis: Andi Pratama  •  Jumat, 29 Mei 2026 | 19:03:29 WIB
Direktur Utama PDAM Poso menjelaskan kondisi infrastruktur tua sebagai penyebab air keruh di Kota Poso.

POSO — Keluhan warga soal air keruh yang keluar dari kran rumah tangga di Kota Poso akhir-akhir ini mendapat respons langsung dari pucuk pimpinan PDAM setempat. Bukan sekadar alasan cuaca, Direktur Utama PDAM Poso, Husai Kaluti, justru membeberkan kondisi darurat infrastruktur yang sudah lama tidak tersentuh perbaikan signifikan.

Dalam pernyataan resmi yang diunggah melalui akun media sosial, Jumat (29/5/2026), Husai menjelaskan bahwa sumber air baku PDAM Poso sepenuhnya bergantung pada air permukaan, yakni Sungai Poso dan Sungai Tokararu di Tangkura. Ketika hujan ekstrem mengguyur, kekeruhan air baku melonjak drastis dan sistem pengolahan yang ada tak sanggup menanganinya.

Bak Pengolahan Rusak, Filter Tak Optimal

Husai merinci sejumlah kerusakan fatal pada fasilitas penunjang yang memperparah situasi. Bak desinfektan, bak flokulasi, dan bak aerasi milik PDAM Poso seluruhnya telah rusak dimakan usia. Akibatnya, fungsi tawas sebagai pengikat partikel lumpur tidak berjalan optimal.

"Proses flokulasi terpaksa terjadi di dalam pipa transmisi saat air mengalir," tulis Husai. Kondisi ini membuat proses pengendapan lumpur tidak sempurna sebelum air sampai ke pelanggan.

Selain itu, filter air yang ada saat ini sudah tidak berfungsi maksimal dan mendesak untuk segera direhabilitasi. PDAM Poso juga kekurangan pipa penguras untuk membuang lumpur di dalam pipa distribusi. Dari kebutuhan ideal sekitar 25 buah, perusahaan hanya memiliki 7 buah.

Mengapa Pasokan Air Sempat Dihentikan?

Husai menegaskan, dalam kondisi kekeruhan ekstrem seperti saat ini, satu-satunya jalan keluar adalah menghentikan pasokan air bersih sementara waktu. Langkah ini diambil demi keselamatan pelanggan, bukan karena pembiaran.

Pihaknya sengaja tidak mengambil opsi memaksakan produksi dengan menambah dosis tawas di luar ambang batas aman. "Karena jika diantisipasi dengan penambahan jumlah pemakaian tawas di luar aturan yang ada, akan berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit dan mata masyarakat," jelas Husai.

Akar Masalah: Minimnya Penyertaan Modal Daerah

Di balik persoalan teknis, Husai mengungkapkan fakta pahit soal anggaran. Meski secara internal manajemen PDAM Poso diklaim telah tertata dengan predikat Kinerja Sehat dan laporan keuangan meraih predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), dukungan dana untuk perbaikan infrastruktur nyaris tidak ada.

"Perlu diketahui, sampai dengan saat ini masuk tahun keempat jabatan saya, karena akibat efisiensi anggaran yang ada, saya belum pernah mendapat Penyertaan Modal untuk mengubah apa yang ada ke arah yang lebih baik," ungkap Husai secara terbuka.

Tanpa suntikan modal dari pemerintah daerah, peremajaan instalasi pengolahan air dan penggantian pipa distribusi yang sudah uzur menjadi mustahil dilakukan. Kondisi ini membuat PDAM Poso hanya bisa beroperasi secara minimalis, bergantung pada fluktuasi cuaca.

Permohonan Maaf dan Harapan ke Depan

Mengakhiri penjelasannya, Husai menyampaikan permohonan maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pelanggan atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia juga berterima kasih atas kritik dan masukan dari warga di media sosial.

"Dengan kondisi yang ada saya minta maaf. Dan ini akan menjadi dorongan bagi kami PDAM Poso untuk lebih baik melayani dalam kondisi yang minimal," pungkasnya.

Reporter: Andi Pratama
Sumber: posoline.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top