Pencarian

AISI Sebut Penjualan Motor Listrik Baru 1-2 Persen, Dorong Konsep Multiteknologi

Senin, 02 November 2026 • 12:49:01 WIB
AISI Sebut Penjualan Motor Listrik Baru 1-2 Persen, Dorong Konsep Multiteknologi
Ketua Bidang Komersial AISI Yosef Utama menyampaikan pandangan asosiasi mengenai adopsi kendaraan listrik di Jakarta, Jumat (30/10).

SULAWESI TENGAH — Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menyatakan penetrasi motor listrik di pasar domestik masih berkisar 1-2 persen dari total penjualan. Kondisi itu membuat AISI menekankan pendekatan multiteknologi, dengan mesin bensin, biofuel etanol, dan kendaraan berbasis baterai dianggap saling melengkapi. Pelaku industri juga meminta kepastian skema insentif agar konsumen tidak menunda pembelian.

Ketua Bidang Komersial AISI yang juga Ketua Penyelenggara IMOS 2026, Yosef Utama, menyampaikan pandangan asosiasi terhadap dinamika adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta, Jumat (30/10), merespons wacana subsidi EV dari pemerintah.

Penetrasi Motor Listrik Masih di Kisaran 1-2 Persen

Angka kontribusi penjualan motor listrik di pasar domestik belum bergerak jauh. Yosef menyebut segmen elektrifikasi roda dua masih berada di kisaran 1 hingga 2 persen.

Porsi kecil itu bukan tanpa sebab. Ada sejumlah tantangan teknis yang harus dilewati sebelum motor listrik bisa diterima lebih luas oleh konsumen Indonesia.

  • Performa kendaraan
  • Jarak tempuh atau range
  • Durasi pengisian daya
  • Ketahanan baterai atau State of Health
  • Kesiapan ekosistem pembiayaan

Industri Minta Insentif Diputuskan Sekali Jalan

Soal insentif, AISI tidak menolak kebijakan subsidi. Yosef menegaskan pelaku pasar menyambut baik setiap langkah pemerintah yang mendukung ekosistem kendaraan ramah lingkungan.

Yang menjadi sorotan justru kepastian skemanya. Ketentuan insentif yang kerap mengalami penundaan dinilai bisa membuat konsumen ragu dan menahan pembelian.

"Nah, kita menyambut baik ya terkait dengan kebijakan subsidi tersebut," ujar Yosef.

Harapan industri lebih tegas lagi soal waktu pengumuman. Menurut Yosef, aturan sebaiknya dipastikan lebih dulu sebelum diumumkan ke publik.

"Sebaiknya memang kalau usul dari industri ya, sebaiknya fix ya. Kita baru memberikan kepastian gitu ya insentif ketika memang dikeluarkan. Kalau belum pasti, sebaiknya enggak perlu dikeluarkan karena bisa membuat konsumen menunda pembelian," tegasnya.

Mesin Bensin dan Etanol Tetap Jadi Andalan

AISI tidak memilih satu jalur teknologi saja. Pendekatan multiteknologi dipertahankan, dengan pengembangan motor berbasis baterai berjalan berdampingan bersama upaya penguatan efisiensi bahan bakar mesin konvensional.

Pemanfaatan biofuel seperti etanol juga masuk dalam peta jalan asosiasi. Bagi AISI, pilihan-pilihan itu tidak bersaing, melainkan menutup kebutuhan mobilitas yang berbeda di masyarakat.

Yosef mengakui motor listrik masih punya sederet kendala. Meski begitu, ia menilai semua pihak terus berbenah dan mengejar perbaikan di sisi teknologi.

"Jadi semua masih ada kendala itu (motor listrik). Tapi semuanya berbenah dan kejar terkait dengan teknologi yang kita sebut tadi multiteknologi," tutup Yosef.

Regulasi Jelas Jadi Kunci Iklim Transaksi

Bagi pelaku industri, kepastian regulasi bukan sekadar soal subsidi. Skema yang jelas menentukan apakah pasar bergerak atau justru menunggu.

Ketidakpastian membuat konsumen menunda keputusan pembelian, dan dampaknya langsung terasa di angka penjualan. Karena itu AISI menempatkan kejelasan kebijakan sebagai syarat utama agar iklim transaksi tetap stabil.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks