SULAWESI TENGAH — Gennaro Gattuso duduk di kursi pelatih Lazio sejak awal musim ini dengan bayang-bayang keraguan. Ia bukan pilihan populer untuk menggantikan Maurizio Sarri. Kini, setelah membawa Biancocelesti ke puncak tabel, ia menghadapi kenyataan pahit: pertandingan kandang berlangsung tanpa atmosfer yang seharusnya.
Sabtu lalu, Lazio menjamu Milan di Stadio Olimpico. Dari 50.000 penonton yang hadir pada laga yang sama musim lalu, kini hanya tersisa kurang dari separuh. Suara nyanyian mayoritas justru datang dari tribun pendukung tim tamu.
Penjualan Tiket Musiman Anjlok di Bawah 5.000
Data dari situs keuangan sepak bola Calcio e Finanza mencatat penjualan tiket musiman Lazio musim ini tidak sampai 4.500 lembar. Musim lalu, angka itu mendekati 30.000.
Penurunan drastis ini bukan karena fans kehilangan minat. Ratusan orang justru berkumpul di luar pusat latihan tim sebelum pertandingan, membentuk konvoi sepeda motor untuk mengawal bus pemain menuju Ponte Milvio, jembatan yang melintasi Sungai Tiber dekat Stadio Olimpico.
Dalam pernyataan resmi, kelompok suporter menyebut mereka akan menonton pertandingan "di pub atau di rumah". Boikot ini diarahkan langsung kepada Lotito.
Petisi Change.org Tembus 45.000 Tanda Tangan
Konflik antara fans dan Lotito bukan hal baru. Januari lalu, sebuah surat terbuka dipublikasikan di Change.org yang menuduh Lotito merampas hak penggemar untuk bermimpi selama lebih dari dua dekade kepemimpinannya.
"Sudah bertahun-tahun, hampir tujuh tahun, sejak kami mengangkat trofi," demikian bunyi petisi tersebut, yang telah ditandatangani lebih dari 45.000 orang. "Tahun-tahun di mana kami tidak merekrut pemain yang mampu menggetarkan hati fans muda dan tua."
Surat itu juga menyinggung penanganan klub terhadap peringatan untuk Vincenzo Paparelli, suporter Lazio yang tewas akibat flare yang ditembakkan dari tribun Roma dalam derby 1979. Lotito dituduh menolak memberi kesempatan kepada keponakan Paparelli untuk berjalan ke lapangan dalam sebuah acara November lalu. Lotito membantah versi tersebut.
Ambisi Politik dan Klub Kedua di Serie D
Kritik lain menyoroti perhatian Lotito yang dianggap terbelah. Ia terpilih sebagai senator Italia pada 2022. Pada 2011, ia membeli Salernitana dan membawa klub itu dari Serie D ke kasta tertinggi sebelum dipaksa menjualnya karena konflik kepentingan.
Aturan kemudian diubah untuk mencegah kepemilikan simultan dua klub di tiga divisi teratas. Namun musim panas ini, Lotito tetap mengakuisisi Reggina, klub yang berlaga di kasta keempat.
Embargo Transfer dan Perekrutan Cerdik Gattuso
Lazio sebenarnya tidak bisa membeli pemain pada musim panas lalu. Klub dikenai embargo transfer karena gagal memenuhi persyaratan likuiditas yang diperkenalkan Federasi Sepak Bola Italia. Lotito berargumen aturan itu tidak mempertimbangkan keberhasilan klub beroperasi tanpa utang besar.
Untuk memenuhi aturan tersebut, Lazio harus melepas sejumlah pemain penting: Taty Castellanos dan Mattéo Guendouzi pada Januari, lalu Mario Gila, Alessio Romagnoli, dan Ivan Provedel pada musim panas.
Setelah embargo dicabut, Gattuso bergerak cermat. Danilho Doekhi datang gratis dari Union Berlin. Albert Gudmundsson dipinjam dari Fiorentina. Davide Frattesi dipinjam dari Inter dengan biaya €5 juta, plus opsi pembelian €10 juta tahun depan — nilai yang jauh lebih murah dari harga yang dibayar Inter saat merekrutnya.
Gattuso: Lebih Baik Jalan-jalan dengan Anjing
Meski hasil di lapangan melampaui ekspektasi, Gattuso tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya melihat tribun yang lengang. Dengan aksen Calabria yang lembut, ia berbicara tanpa kemarahan, tapi jelas ada nada melankolis.
"Sepak bola tanpa fans itu buruk," ujarnya. "Apa pendapatmu? Menurut saya lebih baik tinggal di rumah. Lebih baik jalan-jalan dengan anjing."
Lazio masih di puncak klasemen, setidaknya sampai Roma dan Inter bertanding Senin. Bagi tim yang kehilangan beberapa starter di musim panas, yang memulai musim dengan kekalahan dari klub Serie B di Coppa Italia pada Agustus, dan yang fansnya menolak masuk ke stadion sendiri, pencapaian ini sudah melampaui harapan. Tapi tanpa tribun yang bergemuruh, puncak klasemen terasa hambar.