PALU — Dinas Kesehatan Kota Palu, Sulawesi Tengah, memperkuat tracing atau pelacakan tuberkulosis (TB) dalam upaya memutus mata rantai penularan penyakit tersebut. Kegiatan ini berfokus pada penemuan dini kasus lewat pemeriksaan terhadap kontak pasien TB, baik dari lingkungan keluarga maupun kontak sosial.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palu Rochmat Jasin Moenawar mengatakan, tracing TB dilakukan untuk menemukan sebanyak mungkin kontak erat. Idealnya, satu penderita TB bisa menghasilkan sekitar 10 kontak erat yang diperiksa.
“Tracing TB dilakukan untuk menemukan sebanyak mungkin kontak erat, mulai dari keluarga, tetangga, maupun teman-teman yang sering berinteraksi dengan penderita. Semakin banyak kontak erat yang ditemukan, semakin bagus,” kata Rochmat di Palu, Jumat.
Kontak Erat Tanpa Gejala Tetap Wajib Periksa
Rochmat menjelaskan, kontak erat yang tidak menunjukkan gejala pun tetap perlu diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya infeksi TB. Jika memenuhi kriteria, mereka dapat diberikan terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) agar infeksi tidak berkembang menjadi penyakit TB.
Saat ini, cakupan kontak erat yang telah mendapatkan TPT di Kota Palu baru sekitar 23 persen. Rochmat mengakui, penemuan kontak erat di lapangan masih belum optimal.
“Kalau satu penderita, idealnya ditemukan sekitar 10 kontak erat. Tetapi sekarang yang ditemukan kadang baru tiga orang. Yang sulit itu kontak sosial, seperti teman-teman yang sering bersosialisasi dengan penderita,” ujarnya.
Angka Penemuan Kasus Masih di Bawah Estimasi
Tracing menjadi salah satu strategi penting dalam mencapai target eliminasi TB pada 2030 yang ditetapkan pemerintah pusat. Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) per 16 Agustus 2026, Sulawesi Tengah menempati peringkat kedelapan secara nasional dalam penemuan kasus TB dengan 4.770 kasus dari estimasi beban sebanyak 9.968 kasus atau mencapai 47,9 persen.
Di tingkat provinsi, Kota Palu berada di urutan ketiga setelah Tojo Una-Una dan Morowali. Capaian penemuan kasus di ibu kota Provinsi Sulawesi Tengah itu sebesar 51,4 persen atau 1.062 kasus dari estimasi 2.066 kasus.
Edukasi Melibatkan Institusi Pendidikan
Untuk menekan angka penularan, Dinkes Palu juga memperkuat edukasi masyarakat dengan melibatkan sejumlah institusi pendidikan dan mahasiswa. Mereka membantu tenaga kesehatan memberikan pemahaman mengenai TB, termasuk pentingnya menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas.
Sementara itu, penanganan dan pemberian obat terhadap penderita TB di Kota Palu telah mencapai lebih dari 85 persen. Angka ini menunjukkan pengobatan pasien yang terdeteksi relatif berjalan baik, meski upaya penemuan kasus baru masih perlu ditingkatkan.