PALU — Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah memastikan 16 unit X-ray portabel dari Kementerian Kesehatan akan dibagi merata ke seluruh kabupaten dan kota. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulteng Syahriar mengatakan peralatan itu dijadwalkan tiba pada September 2026.
"Insya Allah kami akan mendapatkan 16 X-ray yang akan kami tempatkan di setiap kabupaten dan kota," kata Syahriar di Palu, Selasa.
Dukungan alat ini menjadi bagian dari upaya pemerintah memperluas cakupan skrining tuberkulosis di daerah. Selama ini, penanganan TB di Sulteng dinilai masih lebih banyak berfokus pada penderita yang sudah terdeteksi, sementara orang-orang di sekitar pasien yang berisiko tinggi belum sepenuhnya mendapat perhatian.
NPOC untuk Wilayah Perifer yang Sulit Dijangkau
Selain X-ray portabel, Sulawesi Tengah juga menerima perangkat Near Point of Care (NPOC). Alat ini memiliki fungsi yang hampir sama dengan Tes Cepat Molekuler (TCM), tetapi lebih mudah dipindahkan.
"Bisa kita tempatkan pada lokasi-lokasi perifer dari kabupaten/kota yang ada di provinsi, agar masyarakat yang betul-betul di daerah perifer ini dapat terdeteksi dan terlayani," ujarnya.
Keberadaan NPOC menjadi penting karena banyak warga di pelosok Sulawesi Tengah yang tinggal jauh dari fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan alat yang portabel, petugas bisa menjangkau mereka secara langsung.
Mengapa Skrining Tidak Cukup Hanya pada Orang yang Sudah Sakit?
Syahriar menjelaskan bahwa bakteri Mycobacterium tuberculosis bisa berada dalam kondisi laten sebelum berkembang menjadi penyakit aktif. Karena itu, penanganan tidak cukup hanya dilakukan terhadap orang yang telah menunjukkan gejala.
"Kasus yang ditemukan sementara yang diobati hanya orang sakitnya. Tapi di sekitarnya, kelompok keluarga atau kontak erat yang mempunyai risiko tinggi belum tertangani," katanya.
Kondisi ini yang menyebabkan kasus TB masih terus ditemukan dari tahun ke tahun. Orang yang tertular atau berisiko tinggi belum mendapatkan terapi pencegahan, sehingga rantai penularan tidak pernah putus.
Target: Turunkan Prevalensi TB di Sulawesi Tengah
Peningkatan penemuan kasus harus diikuti dengan optimalisasi pengobatan. Tujuannya untuk menyembuhkan penderita sekaligus mencegah penularan kepada orang lain.
"Tujuannya bagaimana kita menurunkan angka TB dan bagaimana meningkatkan penemuan kasus serta meningkatkan terapi pencegahan tuberkulosis agar kasus atau prevalensi penyakit TB ini semakin turun dari tahun ke tahun," kata Syahriar.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Sulawesi Tengah termasuk dalam enam provinsi dengan capaian penemuan kasus TB tertinggi secara nasional pada 2025. Pada tahun itu, Sulteng menemukan 8.419 kasus TB dari estimasi beban kasus sebanyak 10.066 kasus atau mencapai 83,6 persen.
Capaian penemuan kasus tersebut juga diikuti dengan tingkat pengobatan yang tinggi, yakni sekitar 90 persen dari kasus TB yang ditemukan.