Pencarian

Menstruasi Lebih Lama Setelah Pasang IUD? Kenali Efek Spiral Tembaga dan Hormonal

Jumat, 04 September 2026 • 14:07:31 WIB
Menstruasi Lebih Lama Setelah Pasang IUD? Kenali Efek Spiral Tembaga dan Hormonal
Perempuan menunjukkan alat kontrasepsi IUD tembaga dan hormonal di hadapan konselor kesehatan di Sulawesi Tengah.

SULAWESI TENGAH — Setelah memutuskan memakai KB IUD, banyak ibu muda yang bertanya-tanya saat siklus menstruasinya berubah drastis. Sebagian merasakan haid lebih banyak, sebagian lagi justru mendapati darah haidnya semakin sedikit. Mana yang normal? Jawabannya tergantung pada jenis alat kontrasepsi yang terpasang di rahim Bunda.

Apa yang Terjadi pada Siklus Haid Setelah Pasang IUD?

Secara umum, terdapat dua jenis IUD yang beredar di Indonesia: IUD tembaga dan IUD hormonal (levonorgestrel). Keduanya sama-sama efektif mencegah kehamilan, tetapi memberikan efek yang berlawanan terhadap pola haid.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perdarahan yang lebih banyak atau berlangsung lebih lama adalah keluhan umum selama 3–6 bulan pertama pemasangan IUD tembaga. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya dan cenderung membaik seiring waktu. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga mencatat, efek ini bisa terasa terutama pada tahun pertama pemakaian.

Kenapa Tembaga Membuat Haid Lebih Deras dan Lebih Lama?

IUD tembaga bekerja tanpa hormon. Alat ini melepaskan tembaga di dalam rahim untuk menciptakan lingkungan yang tidak ramah bagi sperma, sehingga pembuahan bisa dicegah.

Efek lokal dari logam ini yang kemudian mengubah pola perdarahan. Penelitian oleh Shaw dkk. pada 127 perempuan menunjukkan, penggunaan Copper T meningkatkan volume darah menstruasi rata-rata sekitar 42 persen dibandingkan sebelum pemasangan. Studi lain oleh Larsson dkk. menemukan peningkatan kehilangan darah sekitar 20 ml per periode haid pada pengguna IUD tembaga.

Namun, Bunda perlu tahu bahwa tidak semua perempuan mengalami efek yang sama. Respons tubuh setiap orang berbeda-beda, dan biasanya peningkatan ini paling terasa di beberapa siklus awal saja.

Berbeda dengan IUD Hormonal yang Justru Membuat Haid Lebih Ringan

Kalau Bunda memakai IUD hormonal, ceritanya justru berkebalikan. Spiral hormonal melepaskan hormon levonorgestrel yang membuat lapisan dinding rahim menjadi lebih tipis. Akibatnya, jumlah darah yang keluar saat haid bisa berkurang drastis.

Pada 3–6 bulan pertama, pengguna mungkin mengalami spotting atau perdarahan tak teratur. Setelah tubuh beradaptasi, CDC menyebut sebagian besar perempuan hanya mengalami menstruasi ringan, bahkan banyak yang tidak mengalami haid sama sekali. ACOG menegaskan bahwa setelah masa adaptasi, jumlah dan lama perdarahan akan menurun secara signifikan.

Mana yang Lebih Sering Membuat Perempuan Menghentikan Pemakaian?

Perbedaan efek ini ternyata memengaruhi keputusan banyak perempuan untuk melanjutkan atau melepas IUDnya. Sebuah uji klinis acak menemukan, angka penghentian pemakaian karena perdarahan berat dan nyeri adalah sekitar 9,7 per 100 perempuan pada kelompok IUD tembaga. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok IUD levonorgestrel yang hanya 1,3 per 100 perempuan.

Penelitian kuantitatif oleh Andrade dkk. bahkan mencatat, pengguna IUD levonorgestrel mengalami penurunan kehilangan darah menstruasi hingga 90 persen. Sementara itu, kelompok IUD tembaga justru mengalami peningkatan volume darah dibandingkan kondisi sebelum pemasangan. Temuan ini menjelaskan mengapa spiral hormonal sering menjadi pilihan utama bagi perempuan yang ingin kontrasepsi jangka panjang namun tetap ingin nyaman saat menstruasi.

Kapan Bunda Perlu Segera ke Dokter?

Meski perubahan siklus haid adalah hal yang umum, Bunda tetap perlu waspada terhadap tanda-tanda bahaya. Segera periksakan diri ke dokter kandungan jika mengalami perdarahan yang sangat berat hingga menyebabkan pusing atau lemas, nyeri perut yang tak tertahankan, keluar cairan berbau tidak sedap dari vagina, atau jika Bunda merasa ada bagian IUD yang terlepas dan tidak teraba benangnya.

Perdarahan yang disertai demam juga tidak boleh dianggap sepele. Konsultasi tepat waktu membantu memastikan tidak ada infeksi atau masalah lain yang memerlukan penanganan khusus.

Memahami efek IUD terhadap siklus menstruasi membantu Bunda membedakan mana yang wajar dan mana yang perlu dikhawatirkan. Setiap tubuh memiliki masa adaptasi berbeda, jadi berikan waktu beberapa bulan untuk menyesuaikan diri sebelum memutuskan apakah metode ini tetap cocok untuk Bunda.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks