TANGERANG — PT Donggi-Senoro LNG (DSLNG) membeberkan data ilmiah terbaru yang menunjukkan keberhasilan program konservasi laut di area operasional mereka di Kabupaten Banggai. Paparan itu disampaikan dalam ajang IPA Convex 2026 di ICE BSD, Tangerang, Rabu (20/5/2026).
Environment Officer DSLNG, Ridwan Alfarisi, menjelaskan bahwa kondisi terumbu karang di tiga titik pantau utama—Condensate Jetty, LNG Jetty, dan Maleo Center—berada dalam status sangat baik. Indeks keanekaragaman hayati di seluruh titik tersebut masuk kategori tinggi, yang berarti variasi spesies biota laut sangat kaya tanpa ada satu spesies yang mendominasi secara destruktif.
Indikator Ekologi yang Jadi Tolok Ukur Keberhasilan
Tim lingkungan DSLNG menggunakan tiga indikator utama dalam pemantauan rutin bawah laut. Pertama, Indeks Keanekaragaman yang tercatat tinggi di semua titik, membuktikan tidak ada monopoli spesies. Kedua, Indeks Kemerataan yang juga tinggi, menandakan populasi setiap spesies tersebar merata. Ketiga, Indeks Dominansi yang berada di level rendah, mengonfirmasi rantai makanan ekosistem tetap seimbang.
“Saat ini, seluruh terumbu karang di wilayah perairan yang berada di sekitar kilang dalam kondisi yang sangat baik dan terjaga,” ujar Ridwan di booth utama DSLNG. Ia menambahkan bahwa berbagai macam biota laut kini dapat hidup dan berkembang dengan sehat di habitat tersebut.
Bukan Sekadar Program Musiman, Tapi Komitmen RKL-RPL Sejak 2015
Ridwan menegaskan bahwa upaya rehabilitasi ini bukan agenda seremonial belaka. Program transplantasi terumbu karang yang dimulai pada 2018 merupakan bagian dari implementasi dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RKL-RPL) yang telah berjalan sejak fasilitas pemrosesan LNG beroperasi pada 2015.
“Seluruh manajemen lingkungan, termasuk perlindungan wilayah perairan sekitar LNG jetty, condensate jetty, hingga fasilitas marinir lainnya berada di bawah pengawasan program RKL-RPL yang komprehensif,” jelas Ridwan.
Untuk memastikan akurasi data, perusahaan menggandeng penyelam bersertifikat yang memiliki keahlian khusus di bidang biologi laut. Mereka secara berkala melakukan survei bawah air, mengamati kelimpahan ikan, serta menganalisis indeks ekologi di sepanjang garis pantai operasional kilang.
Pionir Energi yang Mengawinkan Produksi dengan SDGs
Keberhasilan ini menempatkan DSLNG sebagai salah satu pionir industri energi nasional yang mampu menyelaraskan target produksi migas dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Di panggung IPA Convex 2026, perusahaan asal Sulawesi Tengah itu menunjukkan bahwa operasional hulu migas berskala besar tidak harus mengorbankan kelestarian lingkungan bawah laut.
Data yang dipaparkan menjadi bukti bahwa pendekatan ilmiah dan konsistensi dalam menjalankan program restorasi mampu mengembalikan fungsi ekologis laut lokal secara optimal. Dengan hasil ini, DSLNG berharap bisa menjadi referensi bagi perusahaan migas lain di Indonesia untuk mengadopsi praktik serupa.