JAKARTA — Tampil dengan narasi yang kuat, Gubernur Sulawesi Tengah Anwar Hafid memberikan motivasi mendalam dalam prosesi wisuda Universitas Trisakti. Ia memosisikan diri bukan sekadar kepala daerah, melainkan sosok "Gubernur Pendidikan" yang melihat lulusan perguruan tinggi sebagai aset vital bagi masa depan Indonesia.
Makna Gelar Sarjana Sebagai Kontrak Sosial
Dalam pidatonya, Anwar Hafid mengingatkan para wisudawan bahwa keberhasilan meraih gelar sarjana bukan merupakan akhir dari perjalanan. Sebaliknya, hal tersebut adalah awal dari tanggung jawab besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada publik dan nilai-nilai kemanusiaan.
“Untuk para wisudawan dan wisudawati, gelar yang kalian dapat bukan sekadar tinta di atas ijazah. Gelar itu adalah kontrak sosial antara kalian dengan kemanusiaan,” tegas Anwar Hafid di hadapan ribuan peserta yang memadati JCC.
Pernyataan ini selaras dengan konsistensi Anwar Hafid selama memimpin Sulawesi Tengah. Mantan Bupati Morowali dua periode tersebut dikenal menempatkan sektor pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan, baik dalam skala daerah maupun nasional.
Alumni Trisakti Diminta Fokus Beri Dampak Nyata
Gubernur Anwar Hafid juga memberikan pesan khusus agar para lulusan tidak terjebak pada kebanggaan simbolis. Menurutnya, nama besar universitas tidak akan berarti banyak jika ilmu yang didapat tidak mampu menghadirkan keadilan dan kebahagiaan bagi orang lain.
“Jangan pernah bangga kalian lulus dari universitas ternama ini. Berbanggalah jika kalian menjadi alasan seseorang kembali bahagia, kembali sembuh, atau sebuah kebijakan menjadi lebih adil karena buah pikiran kalian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak akan menilai seorang sarjana dari durasi masa studinya. Fokus dunia kerja dan kehidupan sosial saat ini lebih tertuju pada seberapa besar dampak positif yang bisa diciptakan oleh seorang individu.
Apa Tantangan Bagi Lulusan Baru Menurut Anwar Hafid?
Di tengah dinamika zaman, Anwar Hafid menyoroti tantangan nyata yang menanti para alumni di lapangan. Ia menekankan bahwa keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan merupakan tolok ukur kesuksesan seorang intelektual sejati.
“Dunia tidak akan bertanya berapa lama kalian kuliah, tetapi akan menagih apa yang bisa kalian berikan untuk mereka yang terpinggirkan,” jelas Gubernur Anwar Hafid.
Visi ini mempertegas pola kepemimpinannya yang humanis. Baginya, pendidikan harus melahirkan manusia yang mampu memberikan solusi praktis, bukan sekadar mengejar titel akademik tanpa kontribusi sosial yang jelas.