PALU — Tenda darurat mulai dipasang di area Rumah Sakit Undata, Kota Palu, tak lama setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 mengguncang wilayah tersebut. Kepala Kantor SAR Palu, Muh Rizal, menyebut pendirian tenda ini merupakan langkah mitigasi cepat dari pemerintah untuk mengantisipasi kondisi mendesak pascagempa.
"Langkah ini dilakukan guna mengantisipasi kondisi mendesak, sekaligus langkah mitigasi oleh pemerintah," kata Muh Rizal di Palu, Selasa.
Meski guncangan cukup kuat dan menyebabkan kepanikan, data sementara dari BPBD Sulawesi Tengah mencatat delapan orang menjadi korban. Dua di antaranya mengalami luka berat berupa patah tulang dan benturan kepala, sementara enam lainnya menderita luka ringan. Seluruh korban luka berat dilaporkan berasal dari Desa Kamarora, Kabupaten Sigi.
Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa dari peristiwa tersebut. Tim reaksi cepat (TRC) dari BPBD dan Basarnas terus melakukan pendataan terhadap warga yang terdampak gempa.
Hasil pemantauan lapangan yang dilakukan Basarnas bersama BPBD menunjukkan bahwa guncangan hanya menyebabkan kerusakan pada bagian plafon bangunan auditorium Universitas Tadulako. Tidak ditemukan kerusakan material yang signifikan di Kota Palu, dan kondisi masyarakat secara umum dalam keadaan aman.
"Kami meminta masyarakat tidak panik dan selalu memperbaharui informasi dari pemerintah. Kami juga meminta masyarakat menyaring informasi di media sosial supaya tidak terjebak hoaks," ucap Rizal.
Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), titik koordinat gempa berada di 1,04 LS - 120,23 BT atau 42 kilometer arah tenggara Kota Palu dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG menegaskan gempa ini tidak berpotensi tsunami karena pusat gempa berada di darat.
Guncangan dirasakan cukup kuat di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, Poso, dan Tojo Una-Una. Masyarakat di sejumlah titik dilaporkan berhamburan keluar rumah dan bangunan untuk menyelamatkan diri.