SULAWESI TENGAH — Jakarta — Presiden Prabowo Subianto secara terbuka memaparkan alasan di balik kegigihannya mencalonkan diri sebagai presiden sebanyak lima kali, yang baru berbuah kemenangan pada Pilpres 2024. Bukan sekadar ambisi politik, Prabowo menyebut keputusannya didorong oleh keyakinan bahwa Indonesia telah menempuh arah yang salah sejak era 1990-an.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) di Hotel Novotel, Lampung, Rabu (10/6/2026). Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa jabatan presiden bukanlah posisi yang diinginkannya hanya demi gengsi atau kekuasaan.
"Kenapa saya ingin jadi Presiden? Saya ingin jadi Presiden karena saya sudah lihat dari tahun 90-an Indonesia menuju arah yang salah," kata Prabowo di hadapan para pengusaha muda.
Kepala Negara yang juga Ketua Umum Partai Gerindra itu mengakui perjalanan politiknya penuh liku. Dari lima partisipasi dalam pemilihan presiden, ia harus menelan pil pahit kekalahan sebanyak empat kali. Baru pada kontestasi kelima, ia berhasil duduk di kursi nomor satu Indonesia.
"Saya bukan mau jadi Presiden hanya untuk jadi Presiden, lo kira enak?" ujarnya dengan nada tegas.
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyoroti kebiasaan elite politik yang kerap terjebak dalam pertikaian. Menurutnya, kondisi ini kontras dengan pemahaman masyarakat akar rumput yang justru mengedepankan kerukunan dan gotong royong.
"Rakyat mengerti bahwa untuk dapat hidup yang baik harus ada kerukunan, harus ada paguyuban, harus ada kerja sama, harus ada saling mengisi, bukan saling menghantam," kata Prabowo.
Ia menilai bahwa semangat kebersamaan dan saling mengisi itulah yang seharusnya menjadi fondasi dalam membangun bangsa, bukan rivalitas yang memecah belah.
Prabowo juga menyinggung ironi dalam kritik yang kerap dialamatkan kepada para pemimpin Indonesia. Ia membandingkan pengalaman yang dialami pendahulunya, Presiden ke-7 Joko Widodo, dengan dirinya sendiri.
"Jokowi enggak pernah ke luar negeri disalahkan. Saya sering ke luar negeri, 'Prabowo sering ke luar negeri'. Aneh itu sebetulnya," ujar Prabowo.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo untuk menggambarkan bahwa kritik terhadap kepala negara seringkali tidak konsisten dan lebih didasarkan pada preferensi subjektif ketimbang evaluasi objektif terhadap kinerja. Ia seolah ingin menegaskan bahwa apa pun kebijakan yang diambil seorang presiden, kritik akan selalu ada.
Pembukaan Munas HIPMI kali ini menjadi panggung bagi Prabowo untuk menyampaikan pandangannya secara gamblang tentang kondisi bangsa dan perjalanan politiknya. Pernyataan tentang "Indonesia salah arah sejak 1990-an" menjadi sorotan utama, mengingat era tersebut merupakan masa transisi politik Indonesia dari Orde Baru menuju Reformasi.