PALU — Perum Bulog Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) melaporkan bahwa realisasi penyerapan beras dari petani lokal hingga awal Juni 2026 telah mencapai 8.700 ton. Jumlah itu setara 77 persen dari total target tahun ini yang ditetapkan sebesar 11.300 ton.
Pimpinan Wilayah Bulog Sulteng Jusri menyatakan optimisme pihaknya dapat memenuhi sisa target sekitar 2.600 ton dalam enam bulan ke depan. Keyakinan ini didorong oleh musim panen yang masih berlangsung di sejumlah daerah.
"Masih ada 2.600 ton beras kami pacu untuk diserap dalam kurun waktu enam bulan ke depan," kata Jusri di Palu, Rabu.
Menurut Jusri, capaian ini merupakan hasil kolaborasi aktif antara Bulog dengan petani, pemerintah pusat dan daerah, TNI/Polri, penyuluh pertanian, serta mitra penggilingan padi. Ia menegaskan bahwa serapan ini bukan sekadar angka, melainkan wujud keberpihakan negara kepada petani.
"Serapan ini bukan hanya angka, tetapi wujud nyata keberpihakan negara kepada petani dan komitmen bersama dalam mewujudkan swasembada pangan nasional," ujarnya.
Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 6.500 per kilogram disebut menjadi faktor pendongkrak serapan. Jusri menjelaskan, kebijakan tersebut memberikan kepastian pasar bagi petani sekaligus mempercepat peningkatan penyerapan hasil panen untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Secara nasional, hingga 3 Juni 2026 serapan setara beras telah mencapai 3.008.626 ton atau sekitar 75 persen dari target. Kondisi ini dipicu oleh konsistensi petani dalam meningkatkan produksi.
Jusri menambahkan, stok beras yang dikelola Bulog saat ini telah melampaui 5 juta ton. Angka tersebut merupakan level tertinggi dalam sejarah modern pengelolaan pangan nasional.
"Stok beras yang ada diproyeksikan mampu mendukung berbagai program pemerintah, mulai dari stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP), penyaluran bantuan pangan hingga mitigasi potensi bencana dan gejolak pasar," kata Jusri lagi.