PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memastikan bahwa pembangunan pabrik pengolahan kelapa di Kabupaten Morowali akan menjadi solusi jangka panjang bagi petani. Gubernur Anwar Hafid secara langsung mengimbau masyarakat untuk tidak ragu memperluas lahan perkebunan kelapa. Pasalnya, industri hilir yang akan menampung hasil panen sudah mulai direalisasikan.
Kehadiran pabrik pengolahan kelapa di Morowali mengubah posisi tawar petani. Sebelumnya, petani kerap menjual kelapa dengan harga murah ke tengkulak karena tidak ada industri pengolahan besar di daerah tersebut. Dengan adanya pabrik, seluruh hasil panen dijamin terserap dengan harga yang lebih stabil.
Anwar Hafid menyebut bahwa prospek komoditas kelapa ke depan sangat cerah. Permintaan global terhadap produk turunan kelapa seperti minyak kelapa murni (VCO), arang tempurung, dan serat sabut terus meningkat. "Kita punya lahan luas, tinggal bagaimana keseriusan kita bersama menggarapnya," ujarnya dalam keterangan resmi beberapa waktu lalu.
Meskipun angka pasti investasi pabrik belum dirinci, proyek ini diproyeksikan menyerap ribuan ton kelapa per bulan. Petani di Morowali dan daerah penyangga seperti Poso, Tojo Una-Una, hingga Banggai Kepulauan dipastikan menjadi pemasok utama. Dampak langsungnya, harga jual kelapa di tingkat petani diperkirakan tidak lagi fluktuatif.
Pemprov Sulteng juga mendorong sistem kemitraan antara petani dan perusahaan pengolah. Skema ini diyakini mampu memutus rantai tengkulak yang selama ini merugikan petani kecil. Jika berjalan lancar, pendapatan petani kelapa di Sulteng bisa naik hingga dua kali lipat dari harga pasar sebelumnya.
Gubernur Anwar Hafid meminta warga yang memiliki lahan tidur untuk segera menanaminya dengan bibit kelapa unggul. Pemprov, kata dia, siap mendistribusikan bantuan bibit melalui dinas perkebunan setempat. "Jangan tunggu pabrik jadi baru menanam. Mulai dari sekarang agar saat pabrik beroperasi, pasokan kita sudah siap," tegasnya.
Langkah ini sekaligus menjadi antisipasi agar pasokan bahan baku tidak justru didatangkan dari luar provinsi. Dengan menanam lebih awal, Sulteng bisa menjadi lumbung kelapa utama di kawasan Indonesia Timur.
Selain bantuan bibit, Pemprov Sulteng berencana memberikan pendampingan teknis budidaya kelapa kepada petani. Program ini menyasar kelompok tani di 13 kabupaten/kota agar produktivitas kebun meningkat. Pemerintah juga akan memfasilitasi sertifikasi lahan agar petani bisa mengakses permodalan dari bank.
Dengan rangkaian program ini, Anwar Hafid optimistis sektor perkebunan kelapa akan menjadi motor penggerak ekonomi baru di Sulteng. "Ini bukan sekadar ajakan, ini adalah panggilan untuk membangun kemandirian ekonomi daerah," pungkasnya.