SULAWESI TENGAH — Semua bermula dari kota Yakutsk, Siberia, ketika suhu udara anjlok drastis dan perusahaan taksi lokal menaikkan tarif hingga dua kali lipat. Sekelompok mahasiswa yang geram lalu membuat grup media sosial bernama “Independent Drivers” sebagai wadah negosiasi langsung antara sopir dan penumpang. Dari situlah filosofi transparansi harga dan kebebasan memilih lahir.
Di Indonesia, inDrive hadir dengan sistem yang membalikkan logika aplikator lain. Penumpang memasukkan destinasi lalu menawarkan harga yang dianggap wajar. Sopir bisa menerima, menolak, atau mengajukan harga balik. Setelah beberapa sopir merespons, penumpang bebas memilih berdasarkan harga, rating, jenis kendaraan, atau jarak sopir.
Bagi penumpang, sistem ini menghilangkan biaya tersembunyi. Harga yang disepakati di awal adalah harga final, tidak ada lonjakan mendadak saat hujan atau jam sibuk. Fitur keamanan seperti berbagi lokasi secara real-time ke keluarga atau teman tetap tersedia.
Sopir juga diuntungkan oleh otonomi kerja. Mereka tidak dipaksa mengambil orderan dengan jarak jemput terlalu jauh atau tarif yang terlalu rendah. Setiap tawaran bisa dievaluasi sendiri.
Saat ini inDrive telah beroperasi di lebih dari 700 kota di 45 negara. Di tengah dominasi pemain besar yang mengandalkan algoritma otomatis, pendekatan “kembali ke manusia” ini menjadi alternatif yang patut diperhitungkan—terutama bagi mereka yang ingin ongkos perjalanan tetap terjangkau tanpa harus melawan algoritma.