SULAWESI TENGAH — Tekanan terhadap rupiah masih berlanjut di awal Juni 2026. Meski IHSG bergerak di zona hijau, mata uang Garuda justru tak mampu beranjak dari tekanan dolar AS. Para pelaku pasar dan nasabah perbankan yang hendak melakukan transaksi valuta asing perlu mencermati kurs yang berlaku di masing-masing bank, lantaran spread antara harga beli dan jual cukup lebar.
Bank Central Asia (BCA) menawarkan beberapa kategori kurs pada pagi ini. Untuk transaksi melalui e-Banking atau e-Rate, BCA memasang harga beli di Rp 17.878 per dollar AS dan harga jual di Rp 17.898 per dollar AS. Artinya, spread antar kurs hanya 20 poin, menjadikannya pilihan efisien bagi nasabah yang bertransaksi secara digital.
Sementara itu, untuk transaksi tunai di kantor cabang (TT Counter dan Bank Notes), BCA mematok harga beli Rp 17.690 per dollar AS dan harga jual Rp 17.940 per dollar AS. Spread yang lebih lebar di segmen ini mencerminkan biaya layanan fisik yang lebih tinggi.
Bank Mandiri (BMRI) memberikan perlakuan khusus bagi nasabah dengan transaksi di atas 25.000 dollar AS. Melalui skema special rate, Mandiri menawarkan kurs beli Rp 17.865 per dollar AS dan kurs jual Rp 17.895 per dollar AS. Angka ini lebih kompetitif dibandingkan kurs TT Counter reguler yang berada di Rp 17.640 (beli) dan Rp 17.940 (jual).
Pola serupa juga berlaku di Bank Negara Indonesia (BBNI). Untuk transaksi besar, BNI menyediakan kurs beli Rp 17.625 per dollar AS dan kurs jual Rp 17.925 per dollar AS. Nasabah korporasi atau individu dengan kebutuhan valas di atas 25.000 dollar AS disarankan menghubungi cabang terlebih dahulu untuk mendapatkan kurs indikasi yang mengikat.
Bagi investor pasar modal, pelemahan rupiah kerap menjadi sinyal waspada terhadap sektor yang memiliki utang dalam denominasi dollar AS, seperti properti dan infrastruktur. Namun, penguatan IHSG pagi ini menunjukkan masih ada optimisme di pasar saham, kemungkinan didorong oleh aksi beli di saham-saham berorientasi ekspor yang diuntungkan oleh kurs lemah.
Untuk pelaku bisnis yang memiliki kewajiban impor atau pinjaman valas, fluktuasi kurs ini langsung berdampak pada biaya operasional. Memanfaatkan kurs special rate untuk transaksi besar bisa menjadi strategi menekan selisih kurs.
Perlu diingat, kurs yang tercantum merupakan indikasi dan dapat berubah sewaktu-waktu. Bank Indonesia (BI) mewajibkan penyampaian dokumen underlying untuk transaksi valas tertentu, sesuai ketentuan yang berlaku.