Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Sulawesi Tengah mencatat realisasi investasi semester I 2026 menyerap 19.114 tenaga kerja lokal, meningkat 22,29 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan kualitas investasi yang masuk ke Bumi Tadulako makin membaik karena laju penyerapan tenaga kerja justru melampaui pertumbuhan nilai investasi yang hanya mencapai 6,97 persen.
PALU — Realisasi investasi di Sulawesi Tengah sepanjang Januari hingga Juni 2026 tercatat Rp 68,70 triliun, atau 73,17 persen dari target tahunan yang ditetapkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM sebesar Rp 93,89 triliun. Dari total tersebut, penanaman modal asing (PMA) mendominasi dengan sumbangan Rp 64,73 triliun atau 94,23 persen, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) hanya menyumbang Rp 3,96 triliun atau 5,77 persen.
Kualitas Investasi: Serapan Tenaga Kerja Tumbuh Lebih Cepat dari Nilai Modal
Kepala DPMPTSP Sulteng Moh Rifani Pakamundi mengungkapkan pertumbuhan penyerapan tenaga kerja lokal yang mencapai 22,29 persen menjadi sinyal positif bagi perekonomian daerah. Capaian ini mengindikasikan proyek-proyek yang berjalan tidak hanya mendatangkan modal, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat sekitar.
"Laju penyerapan tenaga kerja lokal yang tumbuh 22,29 persen melebihi laju pertumbuhan nilai investasi sebesar 6,97 persen. Ini menandakan kualitas investasi yang masuk makin membaik dalam menciptakan lapangan kerja," ujarnya di Palu, Jumat.
Proyek PMDN Terbukti Paling Banyak Menyerap Pekerja Domestik
Berdasarkan struktur penanaman modal, proyek PMDN menyerap 6.500 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan hanya mempekerjakan 47 tenaga kerja asing (TKA). Rasio penggunaan tenaga kerja lokal dibanding asing pada proyek dalam negeri mencapai 138 berbanding 1, jauh lebih tinggi dibanding proyek PMA yang mencatat rasio 6,8 berbanding 1.
Proyek PMA memang menyerap lebih banyak tenaga kerja secara absolut, yakni 12.614 TKI dan 1.845 TKA. Namun, kontribusi PMDN terhadap total penyerapan tenaga kerja domestik tercatat 34 persen, menunjukkan peran investor lokal yang signifikan dalam membuka lapangan pekerjaan.
Secara keseluruhan, penyerapan tenaga kerja asing di Sulteng mencapai 1.892 orang atau 9,01 persen dari total tenaga kerja, dengan rasio penggunaan TKI berbanding TKA berada di tingkat 10,10 berbanding 1.
Morowali Mendominasi, Sebaran TKA Terkonsentrasi di Satu Kabupaten
Konsentrasi investasi di Sulawesi Tengah masih bertumpu pada industri pengolahan nikel di Kabupaten Morowali. Daerah ini membukukan realisasi investasi Rp 65,87 triliun atau 95,88 persen dari total capaian provinsi, menjadikannya motor utama pertumbuhan ekonomi regional.
Morowali Utara menempati posisi kedua dengan nilai investasi Rp 1,06 triliun atau 1,54 persen, diikuti Kabupaten Banggai Rp 0,79 triliun atau 1,14 persen, Kota Palu Rp 0,42 triliun atau 0,62 persen, dan Kabupaten Sigi Rp 0,21 triliun atau 0,30 persen.
Kepala DPMPTSP juga menyoroti sebaran tenaga kerja asing yang sangat timpang. Sebanyak 90,6 persen TKA terpusat di Kabupaten Morowali, sementara tujuh kabupaten/kota di Sulteng tercatat nihil TKA.
Empat Daerah Lampaui Target Investasi Sebelum Tengah Tahun
Meski secara umum capaian provinsi baru mencapai 73,17 persen dari target, sejumlah daerah menunjukkan kinerja luar biasa. Kabupaten Tojo Una-Una menjadi yang tertinggi dengan capaian 218,97 persen dari target tahunan, disusul Kabupaten Buol 173,65 persen, Kabupaten Parigi Moutong 116,38 persen, dan Kabupaten Poso 110,70 persen.
Pencapaian empat kabupaten ini sebelum pertengahan tahun menunjukkan pemerataan investasi mulai berjalan di luar kawasan industri besar. Hal itu sekaligus menjadi indikator bahwa potensi ekonomi di wilayah timur dan tengah Sulawesi Tengah mulai dilirik investor.