Kota Palu, Sulawesi Tengah, terpilih menjadi salah satu dari sekitar 30 pemerintah daerah di Indonesia yang menjalankan Program Local Service Delivery Improvement Project (LSDP), skema penguatan layanan persampahan yang didukung Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, dan Bank Dunia. Tim LSDP yang tengah melakukan kunjungan lapangan memastikan kesiapan daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah jangka panjang.
PALU — Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menegaskan program LSDP tidak dirancang sebagai jawaban sementara atas persoalan sampah. Ia ingin sistem yang dibangun mampu bertahan hingga puluhan tahun menyesuaikan kebutuhan warga dan pertumbuhan kota.
"Kita ingin sistem pengelolaan sampah yang dibangun tidak hanya bersih hari ini, tapi juga berkelanjutan untuk 10-20 tahun ke depan," kata Hadianto ketika menerima kunjungan Tim LSDP di Palu, Rabu.
Kunjungan itu merupakan tindak lanjut verifikasi teknis yang sudah dilakukan sebelumnya. Tim menilai kesiapan pemerintah daerah, memvalidasi data kondisi eksisting, sekaligus membahas langkah penguatan infrastruktur persampahan.
30 Daerah Jadi Lokasi Program, Palu Targetkan Jadi Rujukan
LSDP dijalankan di sekitar 30 daerah di Indonesia, termasuk Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Kapuas, dan Kabupaten Madiun. Keikutsertaan Palu dalam program ini membawa target yang lebih luas: menjadikan sistem pengelolaan sampah kota itu sebagai contoh bagi daerah lain.
Pembahasan bersama tim LSDP juga mencakup peningkatan kapasitas pemerintah daerah, skema pendanaan, hingga transfer teknologi pengolahan sampah. Hadianto menyebut kolaborasi dengan pemerintah pusat, lembaga internasional, dan investor menjadi jalur utama untuk membuat sistem yang lebih modern.
Dukungan Pendanaan dan Teknologi Disiapkan untuk Optimalkan Pengolahan
Tim LSDP yang terdiri atas unsur Kemendagri, Bappenas, dan Bank Dunia menyatakan kesiapan mendukung penguatan kapasitas daerah serta pengembangan sistem pengelolaan sampah di Palu. Dukungan tersebut menyasar efektivitas, efisiensi, dan aspek ramah lingkungan dalam setiap tahap operasional.
"Kita ingin pengelolaan sampah ini tidak berhenti pada apa yang kita lakukan hari ini, tetapi harus dipikirkan bagaimana sistemnya dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat dalam jangka panjang," ujar Hadianto.
Palu menjadi salah satu kota di Indonesia Timur yang dipantau ketat dalam implementasi program ini, terutama setelah pembangunan infrastruktur persampahan pasca-bencana 2018 terus bertambah. Kehadiran dukungan teknis dari Bank Dunia diharapkan mempercepat pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang selama ini terkendala keterbatasan anggaran dan kapasitas sumber daya manusia.