Pencarian

Omzet Rp 500 Ribu per Hari, Perempuan di Morowali Ini Buktikan Usaha UMKM Tumbuh di Bayang-Bayang Industri Nikel

Kamis, 27 Agustus 2026 • 01:37:02 WIB
Omzet Rp 500 Ribu per Hari, Perempuan di Morowali Ini Buktikan Usaha UMKM Tumbuh di Bayang-Bayang Industri Nikel
Lisnawati menunjukkan produk oleh-oleh khas Morowali yang ia rintis sejak 2019 di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah.

Usaha oleh-oleh khas Morowali yang dirintis Lisnawati sejak 2019 kini mencatat omzet rata-rata Rp 500 ribu per hari, seiring tumbuhnya kawasan industri nikel di Kecamatan Bahodopi. Perempuan 43 tahun itu memulai usahanya hanya dengan modal Rp 2 juta dari tabungan pribadi. Kisahnya menjadi bagian dari lompatan jumlah UMKM di kecamatan tersebut yang tumbuh 51,9 persen dalam tiga tahun terakhir.

MOROWALI — Notifikasi di gawai Lisnawati sore itu tidak berhenti bergetar. Satu per satu pesanan masuk untuk kemasan oleh-oleh khas Morowali yang sedang ia tata di Desa Labota, Kecamatan Bahodopi. Bagi ibu dua anak ini, setiap bunyi notifikasi adalah tanda perjuangannya membuahkan hasil.

“Alhamdulillah, sekarang saya bisa beli makanan yang enak untuk keluarga,” katanya kepada ANTARA.

Modal Rp 2 Juta dan Ongkos Bensin yang Menggerus Keuntungan

Perjalanan Lisnawati tidak dimulai dari kemudahan. Sebelum merintis usaha, ia hanya seorang tenaga honorer di Kantor Desa Labota dengan penghasilan yang hampir selalu habis sebelum akhir bulan. Tiga cicilan harus dibayar, membuat setiap rupiah terasa begitu berharga.

“Tuntutan ekonomi yang dorong saya berani mulai usaha,” ujarnya.

Pada 2019, ia memberanikan diri memulai usaha bernama ‘Oleh-Oleh Khas Morowali-Lis Andi Sompo’. Dengan modal Rp 2 juta dari tabungan, ia harus menempuh perjalanan 86 kilometer ke Wosu, Kecamatan Bungku Barat, untuk mengambil stok produksi orang tuanya.

Biaya bahan bakar menjadi tantangan terbesar. Ada kalanya keuntungan nyaris habis hanya untuk menutup ongkos transportasi. Bahkan, modalnya pernah ludes karena terlalu dermawan membagikan sampel produk kepada kawan-kawannya.

“Kalau ingin maju, jangan takut memulai,” begitu prinsip yang terus ia pegang.

Berkah dari Luar Pagar Industri Nikel

Perlahan, roda kehidupannya berputar ke arah yang berbeda. Seiring megahnya PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) berdiri, jalanan yang dulu sepi kini riuh oleh lalu lalang pekerja. Warung, rumah kontrakan, toko, hingga berbagai usaha baru tumbuh dan pesanan Lisnawati ikut bertambah.

Pagi hingga siang ia masih setia menjadi tenaga honorer. Sore dan malam digunakan untuk mengurus usaha, melayani pesanan, hingga menyiapkan stok. Ia juga aktif mengikuti bimbingan teknis yang diselenggarakan IMIP untuk pelaku UMKM.

“Semoga IMIP sering buat kegiatan seperti itu,” harapnya.

Hasil riset Tim Research and Support PT IMIP menunjukkan jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat dari 5.034 unit pada 2022 menjadi 7.643 unit pada 2025, tumbuh sekitar 51,9 persen dalam tiga tahun. Lisnawati masih menyimpan mimpi untuk memiliki toko oleh-oleh agar produk khas Morowali semakin dikenal.

Dari Ruang Kelas ke Hiruk-Pikuk Pabrik

Di balik gerbang kokoh PT IMIP, ada jemari perempuan lain yang memutar roda takdirnya sendiri. Busra, Senior Staff Administrasi di Departemen External Affairs PT IMIP, adalah mantan guru honorer di Madrasah Aliyah. Lulusan Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar tahun 2006 itu mengabdi hampir empat tahun dengan honor Rp 350 ribu per bulan yang kerap diterima terlambat.

“Senang melihat perkembangan murid. Dari tidak tahu menjadi tahu,” kata Busra mengenang masa mengajarnya.

Namun, idealisme harus berhadapan dengan kebutuhan hidup. Tahun 2010 menjadi titik balik ketika PT Bintangdelapan Mineral (BDM), cikal bakal kawasan IMIP, membuka lowongan dengan tawaran gaji lebih dari Rp 3 juta. Busra memberanikan diri melangkah melintasi pintu pabrik.

“Yang penting diterima dulu, apa saja pekerjaannya asal halal,” pikirnya saat itu.

Lima tahun kemudian, seiring berkembangnya kawasan industri, Busra bersama sejumlah rekan dialihkan ke PT IMIP yang berfokus pada industri pengolahan nikel. Perpindahan itu bukan sekadar perubahan nama perusahaan, melainkan awal adaptasi dengan budaya kerja baru di tengah kawasan yang menarik ribuan pekerja dari berbagai daerah di Indonesia.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks