Pencarian

IHSG Melemah ke 6.647 Jelang Akhir Pekan, Investor di Palu dan Sulteng Diminta Waspadai Aksi Ambil Untung

Jumat, 04 September 2026 • 17:12:01 WIB
IHSG Melemah ke 6.647 Jelang Akhir Pekan, Investor di Palu dan Sulteng Diminta Waspadai Aksi Ambil Untung
IHSG ditutup melemah 20,44 poin ke posisi 6.647,45 pada perdagangan Jumat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak fluktuatif pada perdagangan Jumat, dengan indeks sempat menguat namun berbalik melemah 20,44 poin atau 0,31 persen ke posisi 6.647,45. Pelemahan ini terjadi di tengah potensi aksi ambil untung oleh investor menjelang akhir pekan dan tingginya ketidakpastian ekonomi global yang turut memengaruhi pasar modal di Sulawesi Tengah.

PALU — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat ini menunjukkan pola yang berbalik arah. Setelah dibuka menguat, indeks justru terpeleset ke zona merah pada pukul 10.00 WIB, seiring investor mulai merealisasikan keuntungannya sebelum libur akhir pekan.

Kondisi ini patut menjadi perhatian bagi investor ritel di Sulawesi Tengah yang aktif bertransaksi secara daring. Indeks LQ45 yang menjadi acuan 45 saham unggulan juga ikut terkoreksi 2,75 poin atau 0,41 persen ke level 660,02.

Koreksi Teknikal dan Target Level 6.705-6.760

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam kajiannya di Jakarta, Jumat, mengungkapkan bahwa secara teknikal IHSG sebenarnya masih berpeluang menguji level 6.705 hingga 6.760 pada perdagangan hari ini. Namun, ia mewanti-wanti adanya tekanan jual menjelang akhir pekan.

"Perlu diwaspadai potensi profit taking menjelang akhir pekan di tengah ketidakpastian global yang relatif tinggi," ujar Ratna.

Tekanan ini datang dari dalam dan luar negeri. Dari mancanegara, investor tengah menantikan data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pekan ini, sementara dari dalam negeri, pasar mencermati kebijakan fiskal pemerintah.

Data Tenaga Kerja AS dan Sinyal Kenaikan Suku Bunga The Fed

Sentimen pasar global pekan ini banyak ditentukan oleh antisipasi rilis data nonfarm payrolls (NFP) AS untuk Agustus 2026. Konsensus pasar memperkirakan akan ada penambahan 58.000 tenaga kerja, sebuah perbaikan signifikan dibandingkan penurunan 23.000 pekerjaan pada Juli 2026. Adapun tingkat pengangguran AS diperkirakan tetap stabil di angka 4,1 persen.

Angka ini menjadi krusial karena akan menentukan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Ratna menuturkan, jika data tersebut solid dan harga minyak bertahan tinggi, peluang The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada 16 September 2026 akan semakin besar.

Harga Minyak di Atas 90 Dolar AS dan Pertemuan OPEC+

Di sisi lain, tekanan jual pada pasar obligasi global masih berlanjut, meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS (U.S. 10-year Bond Yield) sempat turun lebih dari 2 basis poin ke level 4,772 persen. Pernyataan Gubernur Fed Christopher Waller yang cenderung mempertahankan suku bunga tak berubah pada September 2026 memberikan sedikit ruang napas bagi pasar.

Harga minyak mentah dunia masih bertengger stabil di atas 90 dolar AS per barel pada Kamis (3/9). Kondisi ini dipicu oleh ketegangan geopolitik di kawasan Teluk. Pertemuan OPEC+ yang dijadwalkan pada Minggu (6/9) untuk membahas tingkat produksi bulan Oktober akan menjadi penentu berikutnya.

Sinyal Efisiensi Anggaran Makan Bergizi Gratis dari Pemerintah

Dari domestik, pasar turut menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Purbaya mengenai anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2027. Pemerintah menyatakan anggaran yang sebelumnya direncanakan sebesar Rp240 triliun dapat ditekan hingga di bawah Rp200 triliun.

Langkah ini akan dilakukan melalui efisiensi di berbagai lini serta pemanfaatan teknologi. Badan Gizi Nasional (BGN) juga disebut terbuka untuk melakukan efisiensi dengan mempertimbangkan hasil pembenahan data penerima manfaat di lapangan.

Ratna menilai, pengurangan anggaran tersebut dapat mengalihkan belanja ke program lain yang lebih produktif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Secara paralel, hal ini juga berpotensi membantu menekan defisit anggaran negara yang menjadi perhatian investor.

Kinerja Bursa Global dan Regional Jadi Penopang

Meski dibayangi profit taking, IHSG mendapat angin segar dari pergerakan positif bursa global. Bursa Eropa kompak ditutup menguat pada Kamis (3/9), dengan indeks FTSE 100 Inggris naik 0,70 persen dan DAX Jerman menguat 0,63 persen. Hal serupa terjadi di bursa Wall Street AS di mana Nasdaq Composite melesat 1,40 persen ke level 26.584,06.

Kekuatan juga terlihat dari bursa kawasan Asia pada pagi ini. Indeks Nikkei naik 1,03 persen, Hang Seng melonjak 2,19 persen, dan Kospi menguat 1,47 persen. Kondisi ini menjadi penyeimbang yang membuat IHSG tidak jatuh lebih dalam.

Bagi investor di Sulawesi Tengah, fluktuasi ini mengindikasikan pentingnya strategi pengelolaan portofolio yang hati-hati untuk menghadapi gejolak jangka pendek sembari memantau perkembangan data ekonomi global pekan depan.

Follow prosulteng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sulteng.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks