BPBD Sulawesi Tengah mencatat enam kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi beruntun pada 17–22 Agustus 2026, meludeskan sedikitnya 79 hektare lahan di tiga kabupaten/kota. Kepala Pelaksana BPBD Sulteng Asbudianto menegaskan aktivitas manusia menjadi pemicu dominan, dan pelaku pembakaran lahan terancam sanksi pidana.
PALU — Enam kebakaran hutan dan lahan melanda Sulawesi Tengah dalam sepekan terakhir, dengan Kabupaten Tojo Una-Una menjadi wilayah paling terdampak. Data BPBD Sulteng mencatat total lahan yang terbakar mencapai 79 hektare, tersebar di Kabupaten Tojo Una-Una, Donggala, dan Kota Palu.
Asbudianto mengungkapkan, dari enam kejadian tersebut, empat di antaranya terjadi di Tojo Una-Una, sementara dua lainnya masing-masing di Donggala dan Kota Palu. Pihaknya mengimbau warga untuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar atau membuang puntung rokok sembarangan.
Pelaku Pembakaran Lahan Terancam Sanksi Pidana
“Sanksinya bisa masuk ranah pidana,” kata Asbudianto dalam keterangannya di Palu, Senin. Ia menambahkan, Polda Sulteng telah menerbitkan surat edaran terkait sanksi bagi pelaku pembakaran lahan dan hutan.
Ancaman pidana ini menyasar unsur kesengajaan dalam pembakaran, baik untuk membuka lahan pertanian maupun perkebunan. BPBD menekankan karhutla tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga mengancam habitat satwa dan lahan perkebunan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Pemicu Karhutla: Puntung Rokok hingga Sambaran Petir
Dari enam kejadian yang tercatat, sebagian besar diduga dipicu aktivitas manusia. “Rata-rata penyebabnya adalah ulah manusia,” ujar Asbudianto, merujuk pada temuan di lapangan.
Kebakaran pertama terjadi di Gunung Kalendeng, Desa Balingara, Kecamatan Ampana Tete, Tojo Una-Una, pada 17 Agustus. Api diduga berasal dari puntung rokok dan merembet dari lahan warga ke kawasan hutan seluas sekitar 20 hektare. Keesokan harinya, kebakaran kembali melanda Desa Longge di kecamatan yang sama, membakar kawasan hutan seluas 55 hektare dan sempat mengancam permukiman warga.
Pada hari yang sama, karhutla terjadi di perkebunan warga Desa Alindau, Kecamatan Sindue Tobata, Donggala. Proses pemadaman di lokasi tersebut terkendala medan yang sulit dijangkau. Dua kejadian lainnya terjadi di Dusun Jompi, Kelurahan Malotong, Tojo Una-Una, dan kawasan gunung belakang permukiman Desa Tampanombo, Kecamatan Ulubongka, dengan luas lahan terdampak masing-masing sekitar dua hektare.
El Nino Perparah Risiko Kebakaran dan Kekeringan
Asbudianto menjelaskan, kondisi kering akibat fenomena El Nino meningkatkan risiko meluasnya karhutla. Selain faktor manusia, sambaran petir juga berpotensi memicu kebakaran saat vegetasi dalam kondisi kering.
Dampak musim kemarau tahun ini juga terlihat dari kekeringan di sejumlah wilayah, termasuk Moutong, Lambunu, dan Sausu Taliabu. Di Sausu Taliabu, sumur warga dilaporkan mengering, sehingga BPBD memasok air bersih menggunakan mobil tangki.
Secara kumulatif, BPBD Sulteng mencatat total 42 kejadian karhutla sejak 18 Januari hingga 22 Agustus 2026, tersebar di 35 desa/kelurahan di provinsi tersebut.