SULAWESI TENGAH — Keputusan Suzuki masuk ke segmen kei car listrik ini bukan tanpa alasan. Dimensinya yang ringkas—panjang 3.395 mm, lebar 1.475 mm, tinggi 1.625 mm, dengan jarak sumbu roda 2.460 mm—membuatnya ideal untuk manuver di jalan perkotaan yang padat dan lahan parkir terbatas.
Secara garis besar, Suzuki masih mempertahankan gaya floating roof dan pilar C sewarna bodi pada e Sky. Namun, untuk menekan biaya produksi, sejumlah elemen konsep futuristiknya diredam. Pelek yang digunakan lebih kecil, spion dibuat lebih besar, dan gagang pintu kembali memakai model konvensional.
Penyederhanaan juga terjadi di kabin. Nuansa futuristis Vision e-Sky diganti dengan pendekatan yang lebih praktis dan fungsional, tanpa mengorbankan fitur esensial. Layar infotainment 10,1 inci, panel instrumen digital, rem parkir elektrik, serta jok dan setir berpemanas tetap tersedia. Tata letak AC pun dirancang agar mudah dijangkau pengemudi.
Suzuki e Sky menggendong baterai LFP berkapasitas 26 kWh. Angka jarak tempuhnya mencapai 310 km dalam sekali pengisian—cukup impresif mengingat kapasitas baterainya relatif kecil. Kuncinya ada pada bobot kendaraan yang cuma sekitar 1.030 kg dan desain yang dioptimalkan untuk efisiensi energi.
Perbandingannya, BYD Raccoon yang juga menyasar segmen serupa mampu menempuh 320 km, tetapi harus membawa baterai lebih besar berkapasitas 35,84 kWh. Artinya, e Sky menawarkan efisiensi yang lebih baik per kWh-nya.
Suzuki menegaskan e Sky punya empat tempat duduk dengan bagasi berukuran kecil. Konsekuensinya, mobil ini lebih cocok untuk kebutuhan personal atau keluarga kecil dibandingkan membawa banyak barang bawaan.
Dengan peluncuran di Jepang pada musim gugur 2026, Suzuki memberi jeda hampir satu tahun sebelum ekspansi ke Eropa dan Inggris. Langkah ini menunjukkan keseriusan Suzuki menggarap segmen mobil listrik urban, sekaligus menjawab kebutuhan kendaraan ramah lingkungan untuk pasar yang padat penduduk.