SULAWESI TENGAH — Fenway Sports Group (FSG) akhirnya membuka gerbang investasi asing di Liverpool. Konsorsium bernama 1892 Holdings, yang digawangi pengusaha asal Inggris-India Amit Bhatia, sepakat mengambil porsi minoritas signifikan di klub Premier League tersebut. Langkah ini menjadi injeksi modal asing terbesar dalam sejarah klub sejak FSG mengambil alih pada 2010 silam.
Nama Bezos jelas menjadi magnet utama dalam kesepakatan ini. Orang terkaya ketiga dunia versi Forbes dengan kekayaan sekitar 281 miliar dolar AS itu memang dikenal sebagai penggemar berat American Football dan sempat dikaitkan dengan sejumlah franchise NFL. Namun, ini adalah kali pertama ia menancapkan kaki di sepak bola Eropa.
Selain Bezos, konsorsium ini juga mencakup Eduardo Saverin, salah satu pendiri Facebook. Sementara itu, Bhatia bukan nama asing di sepak bola Inggris. Pria 46 tahun yang dikelola melalui perusahaannya, AyBe Capital, sempat menjadi ketua Queens Park Rangers (QPR) selama lima tahun hingga 2023. Ia juga punya koneksi dengan investor TGL, liga golf milik Rory McIlroy dan Tiger Woods.
Kesepakatan ini mematok nilai keseluruhan Liverpool di angka 7 miliar dolar AS. Menariknya, nilai jual 30 persen saham tersebut kabarnya lima kali lebih besar dari total biaya pembelian seluruh klub oleh FSG pada 2010 lalu. FSG sendiri tidak berada dalam tekanan finansial untuk menjual, tetapi mereka memang membuka peluang investasi baru sejak 2022.
Yang paling krusial, laporan dari CNBC menyebut konsorsium ini memiliki opsi untuk menjadi pemegang saham mayoritas dalam 12 bulan ke depan dengan valuasi klub mencapai 8 miliar dolar AS. Sky Sports News juga mengonfirmasi bahwa kerangka kerja investasi jangka panjang sudah tertuang dalam perjanjian hari ini.
Masuknya Bezos tidak hanya memperkuat kas klub, tetapi juga membuka potensi komersialisasi baru. Kehadiran investor teknologi kelas dunia seperti Bezos dan Saverin bisa mendorong modernisasi infrastruktur Anfield dan fasilitas latihan. Bhatia punya rekam jejak investasi di bidang media dan properti yang relevan dengan pengembangan kawasan stadion.
Belum ada pernyataan resmi dari FSG maupun manajer Liverpool mengenai dampak langsung investasi ini terhadap aktivitas bursa transfer. Namun, sumber internal menyebut dana segar ini akan membuat Liverpool lebih agresif di bursa transfer dalam dua musim mendatang, terutama untuk bersaing dengan klub-klub yang disponsori negara di Premier League.
Proses finalisasi transaksi kini tinggal menunggu persetujuan otoritas sepak bola Inggris dan Premier League. Jika mulus, konsorsium ini akan resmi tercatat sebagai pemegang saham sebelum jendela transfer musim dingin dibuka.