SULAWESI TENGAH — Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, mengungkapkan bahwa total setoran tersebut terdiri dari berbagai komponen, termasuk dividen, pajak, dan penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Capaian ini didorong oleh lonjakan laba bersih perusahaan yang mencapai angka Rp32 triliun pada 2025, atau tumbuh 18 persen dari tahun sebelumnya.
Kenaikan laba bersih tersebut tak lepas dari efisiensi operasional dan optimalisasi produksi di sektor hulu migas. Sepanjang 2025, Pertamina berhasil meningkatkan lifting minyak dan gas bumi, serta memperluas pangsa pasar produk hilir seperti bahan bakar dan petrokimia.
“Kami fokus pada penguatan fundamental bisnis dan tata kelola perusahaan. Hasilnya, kinerja keuangan menunjukkan tren positif yang berkontribusi langsung pada penerimaan negara,” ujar Simon dalam konferensi pers, pekan lalu.
Setoran sebesar Rp360,76 triliun itu menjadi salah satu sumber utama pendapatan negara di luar sektor perpajakan. Bagi masyarakat, kontribusi ini berarti pemerintah memiliki lebih banyak ruang fiskal untuk membiayai program-program pembangunan, seperti subsidi energi, pembangunan infrastruktur, dan bantuan sosial.
Dari sisi pelanggan, Pertamina juga memastikan pasokan BBM dan elpiji tetap terjaga sepanjang tahun, termasuk saat periode libur nasional dan bencana alam. Perusahaan mengklaim tidak ada keluhan berarti terkait distribusi energi di seluruh wilayah Indonesia.
Ke depan, Pertamina menargetkan peningkatan produksi minyak bumi hingga 15 persen pada 2026 melalui program pengeboran sumur baru dan revitalisasi kilang. Selain itu, perusahaan juga akan mempercepat transisi energi dengan mengembangkan bisnis gas alam cair (LNG) dan energi baru terbarukan (EBT).
Dengan capaian setoran dan laba yang positif, Pertamina semakin mengukuhkan posisinya sebagai BUMN penyumbang terbesar bagi kas negara. Pencapaian ini juga menjadi modal kuat untuk menghadapi tantangan transisi energi global yang kian kompetitif.