SULAWESI TENGAH — Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di Kantor INALUM, SCBD, Jakarta, Senin (19/6), mengesahkan laporan keuangan konsolidasian dengan opini wajar tanpa pengecualian dari Kantor Akuntan Publik Purwanto, Susanti dan Surja (anggota Ernst & Young). Dalam rapat tersebut, pemegang saham memberikan pelunasan tanggung jawab penuh (volledig acquit et de charge) kepada direksi dan dewan komisaris atas pengurusan perusahaan sepanjang tahun lalu.
Dari sisi operasional, INALUM memproduksi 280.082 metrik ton aluminium—rekor tertinggi sepanjang sejarah perusahaan yang berdiri sejak 1976. Angka ini naik 2 persen dibanding tahun sebelumnya. Penjualan juga menyentuh rekor 280.141 metrik ton, tumbuh 1 persen secara tahunan.
Corporate Secretary INALUM, Mahyaruddin A.R., menjelaskan bahwa lonjakan produksi ini ditopang oleh proyek Pot Upgrading. Proyek tersebut meningkatkan kapasitas terpasang menjadi sekitar 274.000 ton per tahun melalui peningkatan teknologi tungku reduksi ke arus 235 kA pada 170 tungku di Potline 2. "Kinerja terbaik sepanjang sejarah perusahaan ini menjadi bukti bahwa strategi penguatan daya saing dan hilirisasi yang kami jalankan telah memberikan hasil yang nyata," ujarnya.
Kinerja keuangan INALUM juga solid. EBITDA perusahaan tercatat naik 17 persen secara year-on-year. Pendapatan didorong oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual komoditas yang lebih baik. Tingkat kesehatan perusahaan masuk kategori "AA" dengan klasifikasi "Sehat" berdasarkan penilaian PEFINDO, yang memberikan peringkat final idAA-/Stable dan standalone rating idA+(sa).
Penerapan tata kelola perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Skor ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS) INALUM diproyeksikan naik menjadi 87,54 persen pada Tahun Buku 2025, dari sebelumnya 81,01 persen. Capaian Key Performance Indicators (KPI) Kolegial mencapai 85,54 persen dengan peringkat komposit risiko di level 2.
INALUM tidak hanya fokus pada angka bisnis. Sepanjang 2025, perusahaan merealisasikan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) secara terintegrasi. Program prioritas mencakup pemberian beasiswa kepada 145 penerima, pelatihan bagi 110 guru, dan penanaman 15.000 pohon mangrove. Perusahaan juga membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di tiga lokasi serta menyalurkan pendanaan bagi usaha mikro dan kecil.
RUPST juga menyetujui perubahan susunan pengurus. Dewan Komisaris kini dipimpin oleh Musa Bangun sebagai Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen, didampingi Indra Simarta, Ali Said, Hari Soebagijo, dan Kardwiyana Ukar. Sementara itu, jajaran direksi diketuai oleh Melati Sarnita sebagai Direktur Utama, dengan anggota Ken Permana (Direktur Keuangan), Ivan Ermisyam (Direktur Operasi), Arif Haendra (Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial), serta Kemal Sudiro (Direktur SDM & Transformasi Bisnis).
Dengan kepengurusan baru, INALUM optimistis melanjutkan momentum pertumbuhan dan memperkuat hilirisasi aluminium nasional. Perusahaan menargetkan kontribusi yang berkelanjutan bagi negara dan seluruh pemangku kepentingan di tengah persaingan industri aluminium global yang semakin ketat.