OJK Sulteng Luncurkan Buku Saku Keuangan Khusus Disabilitas di Palu, Sasar Kemandirian Finansial

Penulis: Cahyo Wibowo  •  Minggu, 10 Mei 2026 | 22:25:01 WIB
Peluncuran Buku Saku Keuangan ramah disabilitas oleh OJK Sulteng di Palu sebagai panduan inklusif.

PALU — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Tengah menggandeng Hannah Asa Indonesia menggelar Bootcamp Literasi dan Inklusi Keuangan yang menyasar komunitas penyandang disabilitas di Kota Palu. Langkah ini dilakukan untuk memastikan akses edukasi keuangan yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan di wilayah Sulawesi Tengah.

Kegiatan yang berlangsung pada Minggu tersebut tidak hanya memberikan edukasi secara lisan, tetapi juga ditandai dengan peluncuran Buku Saku Pengelolaan Keuangan. Buku ini dirancang khusus agar ramah disabilitas, sebagai panduan praktis dalam memahami produk dan layanan jasa keuangan yang aman serta legal.

Mengapa Literasi Keuangan Kelompok Disabilitas di Palu Menjadi Prioritas?

Kepala OJK Sulawesi Tengah, Bonny Hardy Putra, menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dalam mengakses layanan keuangan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka. Kolaborasi ini menjadi jembatan agar literasi keuangan tidak hanya menyentuh masyarakat umum, tetapi juga menjangkau komunitas inklusif secara mendalam.

“Penyandang disabilitas memiliki hak yang sama untuk memahami dan mengakses layanan keuangan yang aman, legal dan bermanfaat,” kata Bonny Hardy Putra dalam keterangannya di Palu.

Penyusunan buku saku tersebut merupakan kerja kolektif antara OJK dengan Kementerian Sosial, Bappenas, serta Komisi Nasional Disabilitas Republik Indonesia. Kehadiran instrumen ini diharapkan mampu menjadi alat bantu bagi komunitas disabilitas di Sulawesi Tengah dalam mengambil keputusan keuangan yang sadar dan tanpa tekanan dari pihak luar.

Membedah Kesenjangan Inklusi dan Literasi Keuangan 2025

Berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, terdapat jarak yang cukup lebar antara jumlah masyarakat yang memiliki akses keuangan dengan mereka yang benar-benar paham cara mengelolanya. Tingkat inklusi keuangan nasional tercatat sudah menyentuh angka 80,51 persen, namun tingkat literasi keuangan baru berada di level 66,46 persen.

Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah, menyoroti bahwa kemandirian finansial bukan sekadar memiliki rekening bank, melainkan kemampuan mengontrol arus kas secara mandiri. Menurutnya, banyak masyarakat yang sudah masuk ke dalam sistem keuangan formal, tetapi belum memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk menghadapi tantangan ekonomi.

“Mandiri finansial adalah kondisi ketika seseorang mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, memiliki kontrol atas arus kas, dan mampu mengambil keputusan keuangan secara sadar tanpa tekanan,” ujar Mardiyah.

Edukasi Dana Darurat dan Perlindungan Konsumen di Pasar Modal

Dalam rangkaian bootcamp tersebut, ratusan peserta yang terdiri dari komunitas disabilitas dan mitra perbankan mendapatkan materi teknis mengenai pengelolaan dana darurat. Selain itu, mereka dibekali pemahaman tentang perlindungan konsumen jasa keuangan agar tidak terjebak pada tawaran investasi bodong yang kerap menyasar masyarakat melalui kanal digital.

Pihak Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulawesi Tengah juga turut memberikan materi mengenai investasi legal di pasar modal. Hal ini penting untuk memberikan opsi investasi yang aman bagi komunitas disabilitas yang ingin mulai membangun aset masa depan secara bertahap.

Melalui gerakan ini, OJK Sulteng berharap literasi keuangan di daerah tidak berhenti pada tataran teori di dalam kelas. Sinergi lintas pemangku kepentingan ini diproyeksikan menjadi gerakan nyata untuk menciptakan masyarakat Sulawesi Tengah yang lebih berdaya, mandiri, dan siap menghadapi dinamika ekonomi ke depan.

Reporter: Cahyo Wibowo
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top